Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

VOC, Perusahaan Kelas Dunia yang Hancur Karena Korupsi

📅 Selasa, 26 Mar 2024, 06:10 WIB | Oleh:
VOC, Perusahaan Kelas Dunia  yang Hancur Karena Korupsi Doc: Koran Jakarta/Fajar AM
Ket. Bangunan tua peninggalan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). yaitu Galangan VOC, di Jalan Kakap, Penjaringan, Jakarta Utara, Senin (25/3/2024).Gedung ini pada masa lampau pernah digunakan sebagai salah satu titik aktivitas perusahaan dagang Hindia Belanda.

Selama keberadaannya dari 1602-1799, VOC telah melakukan pelayaran sebanyak 4.721 kali ke Asia. Perusahaan ini telah menciptakan pertumbuhan ekonomi bagi Belanda sebelum dibubarkan karena menghadapi masalah yang kompleks.

Republik Belanda Bersatu bukan hanya terkait dengan konflik politik di Eropa. Pada masa pemerintahan itu, lahir sebuah perusahaan publik dan perusahaan multinasional pertama dengan nama de Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) atau Perusahaan Hindia Timur Belanda.

Perusahaan yang didirikan pada 20 Maret 1602 ini sejak lama merupakan perusahaan perdagangan terbesar di dunia. VOC seringkali mempunyai pengaruh yang bertahan lama terhadap budaya Republik Belanda Bersatu dan seluruh wilayah perdagangannya.

Namun menurut Jan JB Kuiper dalam tulisannya di lamah Historiek, apresiasi terhadap VOC mengalami perubahan besar. Posisi politik dan semangat zaman yang selalu berubah berperan besar dalam hal ini di VOC.

"VOC, sebuah perusahaan multinasional yang beroperasi antara 1602-1799, adalah sebuah cerita besar dan lengkap dari masa lalu kita," kata Kuiper.

Perdagangan rempah-rempah sepenuhnya berada di tangan Portugis hingga akhir abad keenam belas. Portugal berada di bawah kekuasaan Spanyol pada 1580 dan karena itu berperang dengan Belanda. Larangan perdagangan dan kenaikan harga memaksa partai-partai di Republik awal untuk mengambil rempah-rempah mereka sendiri dari Hindia Timur.

Dengan modal uang dari sembilan pedagang, yang tergabung dalam Compagnie van Verre. pengiriman pertama ke Asia dimulai pada 1595. Dua setengah tahun kemudian, tiga dari empat kapal kembali ke Amsterdam dengan hanya 87 dari 249 awak aslinya.

Hasil dari lada yang dibawa hanya cukup untuk menutupi biaya. Namun armada dagang Belanda terus berlayar bolak-balik ke Hindia. Beberapa perusahaan lainnya pun dibentuk. Sebuah perusahaan besar yang bersatu, di mata pengacara negara Johan van Oldenbarnevelt, akan menjadi instrumen ekonomi dan militer yang kuat.

Bagaimanapun, pendapatan tersebut bisa membantu membiayai perang melawan Spanyol. Oldenbarnevelt memaksa perusahaan-perusahaan tersebut untuk bergabung. Oleh karena itu pada tahun tersebut Generale Vereenigde Octroyeerde Compagnie didirikan, yang menurut gambaran keturunannya merupakan salah satu ikon terpenting zaman keemasan Belanda.

Edele compagnie atau Perusahaan Mulia bertugas memperlengkapi armada pulang, membangun benteng, dan membuat perjanjian. Negara ini mempunyai tentaranya sendiri, mata uangnya sendiri, dan pada masa awal berdirinya, negara ini terlibat dalam kampanye militer yang memakan banyak biaya untuk mengusir Portugis dari pos perdagangan Asia dan untuk mencegah pesaing lain terutama Inggris.

Wilayah VOC yang paling penting kemudian adalah Hindia Belanda (Indonesia), Tanjung Koloni (Afrika Selatan), Ceylon (Sri Lanka), wilayah pesisir di India, Malaka, Formosa (Taiwan) dan Desjima (Jepang).

Dari pabrik-pabrik dan benteng-bentengnya yang letaknya strategis, VOC memikat para pangeran setempat untuk mengadakan kontrak pasokan, sering kali menggunakan meriam VOC sebagai argumen yang menentukan.

Komunitas lokal yang tidak dapat menerapkan kontrak terkadang menghadapi pemusnahan. Kekerasan banyak terjadi di Kepulauan Maluku dan Banda, Banten di Jawa, Semenanjung Malaya di Selat Malaka, Ceylon, dan pantai barat daya India

Pembantaian orang Tionghoa yang dikenal dengan Geger Pecinan di Batavia pada 1740, mengakibatkan sekitar sepuluh ribu korban. "Kematian kehidupan di jalanan Batavia yang terpencil, bagi orang Belanda tidak ada belas kasihan baik bagi anak-anak maupun orang tua," kutip tulisan Willem van Haren pada 1742.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Daerah
Badan Geologi Laporkan Akti...
Daerah
Surabaya Siapkan Sensor Pem...
Advertisement
Lebih Tinggi dari India dan Laos, AS Tetapkan Tarif Antidumping Panel Surya Indonesia hingga 173,7 Persen

Lebih Tinggi dari India dan Laos, AS Tetapkan Tarif Antidumping Panel Surya Indonesia hingga 173,7 Persen

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.