Wotawati, Dusun yang Merindukan Matahari
📅 Sabtu, 17 Feb 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo BronoDusun Wotawati sendiri berjarak sekitar 78,4 kilometer dari jantung Kota Jogja melewati Playen, Wonosari dan Semanu dengan waktu tempuhnya 2 jam 6 menit. Lokasi dusun ini terpencil karena tidak berada di jalan utama menuju destinasi wisata atau jauh dari Pantai Selatan Jawa (Pansela).
Lokasinya berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah. Di timur bukit berbatasan dengan Dusun Ngelo, Desa Sumberagung, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah.
Lokasi dusun ini tepat berada di lembah yang dulunya merupakan aliran sungai. Cekungan ini dulunya merupakan aliran Sungai Bengawan Solo purba. Di kanan kiri atau timur dan barat dari dusun ini berupa tebing hijau ditumbuhi aneka tanaman keras milik warga.
Namun tanaman yang mendominasi kedua bukit adalah tanaman jati yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Selain itu di sela-selanya banyak ditumbuhi rumput gajah yang sengaja ditanam untuk pakan ternak seperti kambing dan sapi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di sebelah utara dan selatan dari Sungai Bengawan Solo purba digunakan untuk bertani, seperti singkong, jagung, kedelai, pisang, dan lainnya. Masyarakat menggarap lembah yang kondisinya relatif lebih subur dibandingkan tanah diatasnya yang berupa batu karang.
Dusun ini mayoritas penduduknya memang bertani dan beternak. Ada sebanyak 82 kepala keluarga (KK). Secara administratif Dusun Wotawati terbagi ke dalam 4 rukun tetangga (RT).
Bersuhu Sejuk
Sebaiknya Anda baca juga:
Sinar matahari yang cepat pergi di Dusun Wotawati membuat wilayah ini cukup sejuk. Suhunya berkisar antara 29 derajat Celsius hingga 24 derajat Celsius, meski bukan berada di dataran tinggi. Tentu saja kesejukkan inilah yang menjadi salah satu daya tarik wisatawan.
Salah satu yang dialami warga adalah jemuran pakaian mereka menjadi susah kering. Selain itu jika pergi ke tetangga atau tempat luar dusun harus cepat-cepat pulang karena keadaaan cepat menjadi gelap. Masyarakat berusaha untuk sampai di rumah sebelum pukul 16.00 WIB.
Durasi paparan sinar matahari yang lebih pendek mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Oleh karenanya masyarakat memilih jenis tanaman yang mudah ditanam seperti singkong, sirsak, jati dan lainnya. Apalagi di wilayah ini umumnya berupa tegalan dengan irigasi hanya mengandalkan air hujan.
Kendala lain yang dialami warga Wotawati adalah sinyal internet. Hanya dua layanan layanan dari Telkomsel dan Indosat, sementara sinyal dari penyedia layanan seluler lain masih tidak dapat diterima di tempat ini.
Bagi masyarakat Jawa, nama Wotawati tergolong unik. Usut punya usut, ternyata pada zaman dahulu kala ada dua orang dari Kerajaan Majapahit bernama Arum Sukowati dan Raden Joko Sukmo yang tinggal di Gua Puteri di salah satu bukit Dusun Wotawati.
Saat ingin menyeberangi sungai, kedua orang ini kemudian memutuskan untuk membuat jembatan dari kayu atau disebut wot dalam bahasa Jawa. Sayangnya saat jembatan sudah jadi lalu dilewati, Arum Sukowati justru terpeleset. Mengetahui hal itu, Raden Joko Sukmo langsung menarik untuk menyelamatkannya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!