Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Peraih Nobel Muhammad Yunus Dihukum Penjara atas Kasus Perburuhan di Bangladesh

3 Selasa, 02 Jan 2024, 11:01 WIB | Oleh: Tim Penulis
Peraih Nobel Muhammad Yunus Dihukum Penjara atas Kasus Perburuhan di Bangladesh Peraih Nobel Muhammad Yunus Dihukum Penjara atas Kasus Perburuhan di Bangladesh Doc: AFP/Munir uz zaman
Ket. Peraih Nobel perdamaian Muhammad Yunus (rompi krem) divonis bersalah pada 1 Januari 2024 karena melanggar undang-undang ketenagakerjaan Bangladesh.

DHAKA - Peraih Nobel perdamaian Muhammad Yunus pada Senin (1/1) divonis bersalah karena melanggar undang-undang ketenagakerjaan Bangladesh. Para pendukungnya mengecam vonis tersebut karena bermotif politik.

Yunus (83) dipuji karena berhasil mengentaskan jutaan orang dari kemiskinan melalui bank keuangan mikro perintisnya, namun ia dimusuhi Perdana Menteri Banglades Sheikh Hasina yang menudingnya "mengisap darah" orang miskin.

Hasina telah melancarkan beberapa serangan verbal pedas terhadap pemenang Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2006 yang dihormati secara internasional, yang pernah dianggap sebagai saingan politik.

Yunus dan tiga rekannya dari Grameen Telecom, salah satu perusahaan yang ia dirikan, dituduh melanggar undang-undang ketenagakerjaan ketika mereka gagal menciptakan dana kesejahteraan pekerja di perusahaan tersebut.

Pengadilan perburuhan di ibu kota Dhaka memvonis dan menjatuhkan hukuman "enam bulan penjara sederhana" kepada mereka, kata jaksa utama Khurshid Alam Khan kepada AFP. Keempatnya segera diberi jaminan sambil menunggu banding.

Keempatnya menyangkal tuduhan tersebut.Puluhan orang menggelar aksi kecil-kecilan untuk mendukung Yunus di luar gedung pengadilan.

"Saya dihukum atas tindak pidana yang tidak saya lakukan," kata Yunus kepada wartawan usai sidang.

"Jika kamu ingin menyebutnya keadilan, kamu bisa."

Yunus menghadapi lebih dari 100 dakwaan lain atas pelanggaran hukum ketenagakerjaan dan dugaan suap.

Dia mengatakan kepada wartawan setelah salah satu dengar pendapat bulan lalu bahwa dia tidak mengambil keuntungan dari lebih dari 50 perusahaan bisnis sosial yang dia dirikan di Bangladesh.

"Itu bukan untuk kepentingan saya pribadi," kata Yunus saat itu.

Pengacaranya yang lain, Khaja Tanvir, mengatakan kepada AFP bahwa kasus tersebut "tidak berdasar, palsu, dan tidak bermotif".

"Satu-satunya tujuan kasus ini adalah untuk melecehkan dan mempermalukannya di depan dunia," kata Tanvir.

Parodi Keadilan

Irene Khan, mantan kepala Amnesty yang sekarang bekerja sebagai pelapor khusus PBB yang hadir pada putusan hari Senin, mengatakan kepada AFP bahwa hukuman tersebut adalah "parodi keadilan".

"Seorang aktivis sosial dan peraih Nobel yang membawa kehormatan dan kebanggaan bagi negara ini dianiaya atas dasar hal-hal yang tidak penting," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta

Rupiah Masih Rentan - 3 November 2026

1 jam lalu | Rizal Azhari

Ekonomi
Rupiah Masih Rentan - 3 Nov...
Megapolitan
Prioritaskan Persija, Pramo...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Polemik Kadar Emas, Konsumen Soroti Perbedaan Hasil Pengujian

Polemik Kadar Emas, Konsumen Soroti Perbedaan Hasil Pengujian

02 Nov 2026
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.