Aleksandria, Ibu Kota Intelektual Dunia Kuno
📅 Jumat, 08 Des 2023, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: afp/ Khaled DESOUKI
Kota kuno Aleksandria pernah dikenal sebagai pusat pengetahuan yang memikat para cendekiawan. Di bawah visi Aristoteles, di kota ini dikembangkan filsafat ilmu yang berdasar observasi dan pengumpulan data yang dipadukan dengan penalaran logis.
Ada banyak faktor yang berperan dalam menjadikan Kota Aleksandria mendapatkan predikat sebagai pusat pengetahuan, mulai dari dukungan finansial dari para penguasa hingga lokasinya yang strategis. Kota ini juga didukung dengan monumen-monumen terkenal seperti Perpustakaan Besar dan Museum Aleksandria.
Alesandria didirikan oleh Alexander Agung pada 331 SM, hanya delapan tahun sebelum kematiannya pada 323 SM. Kota ini dengan cepat menjadi kota yang monumental karena lokasi dan visinya yang strategis.
Raja Makedonia itu berusaha mengkonsolidasikan kerajaannya. Ia memilih mendirikan situs ini di sepanjang pantai Mediterania Mesir. Tujuannya adalah untuk membangun pelabuhan penting yang akan memfasilitasi perdagangan antara Mesir dan seluruh kerajaannya yang luas, serta mendorong pertumbuhan ekonomi.
Lokasi kota ini yang berada di muara Sungai Nil menjadikannya pusat maritim yang ideal. Di bawah kepemimpinan Jenderal Alexander dan Ptolemeus, kota yang kini disebut dengan Iskandariah ini, berkembang pesat dan akhirnya menjadi ibu kota Kerajaan Ptolemeus.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mercusuar ikoniknya, Pharos, dan Perpustakaan Aleksandria yang terkenal, yang menyimpan banyak gulungan, memperkuat pentingnya sejarahnya. Perpaduan antara perdagangan dan budaya mengubah Alesandria menjadi kota metropolitan yang dinamis.
Sejak awal berdirinya, Alesandria dipenuhi dengan rasa ingin tahu. Baik Alexander maupun penerusnya, Ptolemeus I, menghabiskan waktu bersama dan diajar oleh filsuf Yunani kuno terkenal, Aristoteles. Misi hidup yang diproklamirkan Aristoteles adalah mengumpulkan semua pengetahuan manusia dan mewariskannya kepada generasi mendatang.
Ptolemeus memutuskan untuk memulai koleksi benda, dan buku. Cita-cita intelektual Aristoteles dan Ptolemeus menjadi etos Dinasti Ptolemeus. Penggantinya, Ptolemeus II bahkan diajar oleh penerus Aristoteles, Strato, dari Lampsacus.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tentu saja ada pusat-pusat pembelajaran lain di dunia kuno, beberapa di antaranya menyaingi Aleksandria. Namun, pengaruh pendiri Aristoteles-lah yang membedakan kota besar ini. Filosofinya didasarkan pada observasi dan pengumpulan data yang dipadukan dengan penalaran logis.
Ini sebenarnya merupakan upaya awal untuk mengembangkan metode ilmiah yang masih digunakan hingga saat ini. Sementara pusat pembelajaran lain berfokus pada renungan filosofis abstrak, Aleksandria adalah yang pertama berfokus pada studi empiris yang ketat. Itu adalah pendekatan yang mengubah dunia.
Salah satu elemen sebagai ibukota intelektual adalah adanya Perpustakaan Besar Aleksandria. Salah satu tindakan pertama Ptolemeus sebagai penguasa adalah mulai membangun perpustakaan itu. Dia melakukannya dengan memanggil politisi Athena dan murid Aristoteles, Demetrius dari Phaleron.
Ia memberi Demetrius tugas berat untuk menemukan salinan setiap buku yang ada dan menyalinnya. Untuk melakukan hal tersebut, ia diberikan anggaran yang hampir tidak terbatas karena kas seluruh negara di ujung jarinya.
Memang untuk mengumpulkan setiap buku yang ada memerlukan waktu. Proses ini bahkan belum selesai pada masa kekuasaannya. Beruntungnya semua penerusnya mengikuti teladannya dengan mengirimkan para sarjana ke seluruh dunia untuk menyalin teks dan membawanya kembali.
Di Perpustakaan Besar tersimpan risalah tentang Zoroastrianisme yang telah disusun di Iran. Selain itu juga menyalin teks-teks yang ditulis oleh para sarjana dan filsuf terbesar India, serta semua tulisan dari setiap orang Yunani yang terkenal.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!