Perkembangan ISPA dan Pneumonia dalam Pantauan
📅 Senin, 04 Des 2023, 05:21 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ANTARA News/Fauzi Lamboka
JAKARTA - Untuk mengantisipasi kasus infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan pneumonia anak atau orang dewasa, maka dinkes teruta meningkatkan sistem pelaporan individu setiap waktu (real time).
"Pemantauan tersebut dilakukan di seluruh Puskesmas dan 194 rumah sakit. Langkah tersebut ditempuh guna mencermati dan mendeteksi penyakit-penyakit baru melalui pemeriksaan laboratorium," kata Kepala Seksi Surveilans, Epidemiologi, dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Jakarta, Ngabila Salama di Jakarta, Minggu (3/12).
Pemantauan tersebut dilakukan melalui pemeriksaan PCR atau panel virus untuk mengetahui seseorang terkena virus. Sebab kondisi imunitas yang buruk dalam menghadapi peralihan musim dari kemarau ke hujan.
Kondisi itu cenderung membuat imunitas cenderung menurun akibat faktor kelembaban yang membuat kuman seperti virus, bakteri, dan jamur mudah masuk ke tubuh. Selain itu, mengantisipasi adanya kenaikan kasus pneumonia balita di Tiongkok (walking pneumonia).
Kemudian di Belanda sertaIndia yang kemungkinan disebabkan virus seperti adenovirus, RSV, rinovirus, influenzae, parainfluenzae, Covid-19 dan mycoplasma. "Maka perlu dilakukan pencegahan," tandas Ngabila. Adapun pencegahan yang perlu ditingkatkan, antara lain Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dan mengenakan masker di keramaian.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Warga yang sedang sakit sebaiknya tidak keluar rumah. Gunakan masker di sekolah, ruang kerja, dan ruang tertutuplainnya," jelasnya. Lalu rutin mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun. Jangan lupa imunisasi rutin secara lengkap untuk anak-anak.
15 Imunisasi
Menurut Ngabila, ada 15 imunisasi gratis dari pemerintah. Ini mulai dari anak sampai dewasa. Lalu, ada vaksinasi Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV). Vaksin ini untuk mencegah pneumonia dan Haemophilus influenzae tipe B/HiB.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kemudian ada vaksin dosis 1-4 untuk Covid-19 usia 18 tahun ke atas secara gratis di Puskesmas dan RSUD terdekat. Selain itu, Ngabila juga menganjurkan agar dilakukan vaksin influenzae berbayar mandiri. Ini untuk usia 6 bulan ke atas, terutama kelompok rentan seperti balita, lansia, ibu menyusui, ibu hamil dan tenaga kesehatan.
Berikutnya, Ngabila menginformasikan warga harus menjaga ventilasi udara dengan baik terutama di ruang tertutup (indoor). Jangan lupa untuk rutin membuka kaca atau jendela rumah. Selain itu, bisa juga menggunakan penyaring udara.
"Sudah tentu harus segera berobat bila mengalami gejala pernapasan tidak membaik. Lakukan deteksi dan terapi dini di fasilitas kesehatan," katanya. Sebagai bentuk kesiapsiagaan pemerintah dalam mengantisipasi penularan pneumonia, Kementerian Kesehatan menerbitkan Surat Edaran tentang Kewaspadaan terhadap Kejadian Mycoplasma Pneumonia.
Dalam surat edaran tersebut, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes,Maxi Rein Rondonuwu, minta Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) untuk melakukan pemantauan perkembangan kasus dan negara terjangkit di tingkat global. Mereka juga diminta meningkatkan kewaspadaan dini dengan melakukan pemantauan kasus yang dicurigai pneumonia.
Kemenkes juga minta KKP untuk meningkatkan pengawasan terhadap orang (awak, personel, dan penumpang), alat angkut, barang bawaan, lingkungan dan vektor. Kemudian binatang pembawa penyakit di pelabuhan, bandar udara dan pos lintas batas negara, terutama yang berasal dari negara terjangkit juga harus diperiksa kesehatannya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!