Beras Tetap Beri Andil Terbesar Inflasi November 2023
📅 Sabtu, 02 Des 2023, 05:39 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: ISTIMEWA
» Transmisi penurunan harga di tingkat produsen ke konsumen tidak terjadi dengan baik.
» Harga beras diperkirakan baru akan terkendali pada Januari 2024 karena sudah terjadi normalisasi.
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS), pada Jumat (1/12), melaporkan pendorong inflasi tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 2,86 persen pada November 2023 masih didominasi oleh komoditas beras dengan andil 0,58 persen.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud, di Jakarta, Jumat (1/12), mengatakan Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat dari 112,85 pada November 2022 menjadi 116,08 pada November 2023.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain beras, komoditas penyumbang utama inflasi lainnya adalah cabai merah sebesar 0,19 persen, rokok kretek filter 0,18 persen, cabai rawit 0,10 persen, daging ayam ras 0,09 persen, dan bawang putih 0,07 persen.
Dengan demikian, inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau pada November 2023 mencapai 6,71 persen dan memberikan andil 1,72 persen terhadap inflasi umum.

Sebaiknya Anda baca juga:
Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudisthira, yang diminta pendapatnya mengatakan ada tiga hal yang perlu dicermati soal inflasi. Pertama, inflasi bahan makanan secara tahunan masih tinggi yakni 7,19 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Setelah beras, ada cabai yang berisiko meningkatkan inflasi pangan.
"Kebergantungan impor cukup tinggi dan harga internasional memang terus meningkat sejak awal tahun," kata Bhima.
Kedua, inflasi di sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya tertinggi kedua setelah pangan yakni 3,76 persen. Ketiga, kata Bhima, adalah dorongan inflasi masih dominan bersumber dari sisi pasokan. Sementara sisi permintaan masih sangat lemah ditunjukkan inflasi inti 1,87 persen pada November atau sangat kecil.
"Jadi, konsumsi rumah tangga ini belum mendorong inflasi secara signifikan. Ada masalah di belanja masyarakat, dikaitkan dengan mahalnya harga pangan, hingga pendapatan masyarakat yang terganggu dan sulitnya mencari lapangan kerja di sektor formal," kata Bhima.
Rekan Bhima dari Celios, Nailul Huda, mengatakan jika melihat tren harga gabah yang sudah turun maka diharapkan harga beras akan berangsur-angsur melandai setelah sebelumnya naik secara eksponensial. Seiring mulai masuknya ke musim penghujan, seharusnya bisa membuat ekspektasi harga gabah menurun.
"Isu El Nino juga sudah reda dengan masuknya musim penghujan. Makanya harga di tingkat produsen menurun. Jadi, harga di tingkat produsen sudah menurun atau minimal melandai," terangnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!