Menggali Akar Kemiskinan Kronis Masyarakat Kawasan Hutan
📅 Selasa, 21 Nov 2023, 15:00 WIB | Oleh: Tim PenulisSelain itu, aspek kesehatan juga terpengaruh, terutama pola makan. Telur dan daging menjadi barang mewah, dengan sebagian warga hanya mampu mengonsumsinya sekali atau dua kali seminggu. Beberapa keluarga bahkan harus menahan diri selama sebulan lebih tanpa makan telur. Prioritas pengeluaran uang lebih cenderung untuk jamu-jamuan demi menjaga daya tahan tubuh, lebih dari pada membeli protein dari telur.
Faktor internal penyebab kemiskinan kronis
Faktor internal yang menyebabkan kelanggengan miskin kronis adalah rendahnya kualitas pendidikan, terlalu bergantung pada kayu hutan dan rendahnya kreativitas dalam usaha, pola pikir pengelolaan uang rumah tangga yang tidak efektif, dan terbatasnya sumber daya air.
Rendahnya kualitas pendidikan di dusun kawasan hutan menjadi hambatan besar. Di Dusun Malangbong, mayoritas anak hanya mampu menempuh pendidikan hingga tingkat SD dan SMP. Keterbatasan unit pendidikan di dalam dusun membuat anak-anak harus berjuang menempuh perjalanan sejauh belasan kilometer untuk bisa melanjutkan pendidikan ke level SMA.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pilihan pekerjaan setelah lulus sekolah cenderung terbatas, dengan mayoritas memilih menjadi buruh tani. Inovasi dalam jenis pekerjaan atau usaha baru terhambat oleh tradisi berpikir yang masih mengedepankan pemenuhan kebutuhan makan harian saja.
Penggunaan kayu sebagai sumber pendapatan utama semakin sulit karena hutan pohon jati yang biasa ditebang dan "dicuri" oleh warga sudah mulai habis. Meskipun ada beberapa upaya menanam tanaman alternatif seperti gadung atau umbi-umbian, pola pikir mayoritas warga masih tertahan pada kegiatan pertanian yang menghasilkan langsung. Pemikiran "kerja hari ini untuk makan besok" masih mendominasi, membuat sulitnya berpindah ke jenis pekerjaan jangka panjang seperti peternakan.
Sebagian besar dari mereka hidup dengan filosofi yang menyertainya: "Hari ini, jerih payah hanya untuk menutupi kebutuhan makan besok saja. Uang yang dihasilkan dengan susah payah hari ini harus terasa mengalir dan terasa habis begitu saja. Mereka menganggap bahwa bekerja di hutan hari ini sudah cukup, pulang dalam keadaan lelah lesu, berusaha menikmati hidangan seadanya sampai perut kenyang, dan kemudian tenggelam dalam tidur. Dan begitu matahari menyingsing besok, mereka kembali memulai perjalanan menuju hutan, memulai rutinitas yang tak kunjung usai."
Sebaiknya Anda baca juga:
Aspek perekonomian juga terkait dengan kurangnya pemahaman akan manajemen uang rumah tangga. Mayoritas rumah tangga miskin tidak memiliki tabungan, dan uang yang diperoleh cenderung dihabiskan tanpa pertimbangan untuk kebutuhan mendesak di masa depan. Tidak adanya pola pikir untuk menyisihkan sebagian penghasilan membuat mereka rentan terhadap kondisi darurat seperti sakit atau musibah lainnya.
Faktor Eksternal Penyebab Kemiskinan Kronis
Tantangan kemiskinan masyarakat kawasan hutan tidak hanya berasal dari faktor internal, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor eksternal yang menyebabkan terisolirnya masyarakat dari pusat desa/kota. Kondisi ini mencakup rusaknya infrastruktur jalan penghubung antar dusun/desa dan keterbatasan sarana perekonomian di desa.
Fakta ini menunjukkan bahwa kemiskinan masyarakat kawasan hutan berkaitan erat dengan isu kemiskinan struktural akibat kurangnya perhatian pemerintah terhadap kawasan-kawasan tersebut.
Sebagai penduduk pinggiran hutan yang mayoritas petani, mereka menghadapi kesulitan ekonomi tingkat bawah. Kondisi geografis dusun ini membuat sinyal gawai sulit terdeteksi, membatasi akses mereka untuk terhubung dengan dunia luar. Jarak yang harus ditempuh untuk mencapai pusat desa terdekat cukup jauh dan melalui jalan yang tidak layak, dengan kondisi jalan makadam yang rusak dan berbahaya.
Keterbatasan akses jalan ini membuat aktivitas sehari-hari, seperti bertransaksi di pasar desa atau berkomunikasi dengan pihak luar, menjadi sulit dilakukan. Bahkan kepala dusun pun kesulitan untuk rutin datang ke balai desa, yang hanya bisa dilakukan sekali dalam seminggu akibat sulitnya akses jalan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!