Dampak Perubahan Iklim, Terumbu Karang di Indonesia Terancam Punah
📅 Jumat, 03 Nov 2023, 11:12 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Shutterstock
Robby Irfany Maqoma, The Conversation
Artikel ini adalah bagian pertama dari serial peliputan mendalam berbasis sains yang didukung hibah Environmental Reporting from Asia-Pacific Island Countries oleh Internews' Earth Journalism Network. Bagian kedua dapat dibaca di sini.
Sukding, Kepala Dusun Gili Air di Kawasan Konservasi Perairan Nasional Gili Matra, Nusa Tenggara Barat, tak kesulitan mengenang masa kecilnya kala menyelam di perairan dekat dusun dan bermain-main dengan ikan penghuni terumbu karang. Dahulu, sekitar dekade 80-an, Sukding mengingat kawasan ini kaya akan terumbu karang yang menjadi rumah bagi ikan, udang, maupun biota laut lainnya.
"Seluruh pinggir pantai di pulau ini [Gili Air] dipenuhi karang-karang," ujar Sukding, 42 tahun, kepada The Conversation Indonesia pada awal Agustus lalu.
Empat dekade berselang, menurut Sukding, kondisi berubah hampir 180 derajat. Terumbu karang di Gili Matra-akronim dari Gili Meno, Gili Air, dan Gili Trawangan, nyaris tumpas. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan 2022 menyatakan luas ekosistem karang di Gili hanya tersisa sekitar 247 hektare (ha) atau sekitar 10% dari total luas kawasan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Biang keladi kerusakan ini adalah pemanasan suhu laut. Pemutihan karang besar-besaran imbas panas ekstrem dari fenomena El Nino pada 1998 menghabisi tutupan karang yang dahulu mencapai 60-80% di banyak lokasi di Gili Matra. Pemutihan lanjutan kemudian terjadi pada 2010 dan 2016 sehingga kerusakan karang semakin parah.
Masalah tak berhenti sampai di situ. Riset terbaru oleh tim yang dipimpin akademisi University of Edinburgh di Inggris, Laurence De Clippele, memaparkan ekosistem karang Gili Matra akan terdampak pemutihan parah tahunan (annual severe bleaching) akibat perubahan iklim pada 2026. Iklim yang berubah akan memanaskan suhu laut sehingga melampaui daya tahan karang-karang.
Studi yang turut dilakukan Laurence bersama Yayasan World Wildlife Fund Indonesia dan Kementerian Kelautan dan Perikanan ini juga menyatakan pentingnya memasukkan faktor risiko pemanasan suhu laut dalam pengelolaan kawasan konservasi Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Apalagi, pemerintah menargetkan perluasan kawasan konservasi dari 28,9 juta hektare (ha) menjadi hampir 100 juta ha pada 2045.
"Tujuan dari riset kami adalah memberikan pengetahuan area-area (konservasi) mana saja yang lebih membutuhkan dukungan," ujar Laurence kepada The Conversation Indonesia, akhir Juli silam.
Ancaman di tempat perlindungan
Pemutihan karang terjadi karena lepasnya alga zooxanthellae dari permukaan hewan karang. Akibatnya, karang menjadi sekarat lantaran tidak mendapatkan cukup makanan seperti glukosa, asam amino, dan gliserol yang berasal dari alga sehingga karang memutih. Pemanasan laut sekitar 1-1,5°C di atas temperatur normal selama waktu yang lama-sekitar sebulan-merupakan salah satu sebab utama pemutihan karang.
Nah, pemutihan tahunan akan membuat ekosistem karang mengalami masa sekarat setiap tahun. Kejadian ini, menurut Laurence, akan mengancam ratusan ekosistem karang di Indonesia, termasuk di Gili Matra.
Selain Gili Matra, studi Laurence dan tim menaksir pemutihan tahunan akan terjadi di 11 dari 161 kawasan konservasi laut lainnya di Indonesia setidaknya mulai 2026.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!