Dampak Perubahan Iklim, Terumbu Karang di Indonesia Terancam Punah
📅 Jumat, 03 Nov 2023, 11:12 WIB | Oleh: Tim PenulisBeberapa di antaranya adalah Kawasan Konservasi Perairan Daerah Selat Pantar - Alor di Nusa Tenggara Timur (2026), dan Suaka Alam Perairan Kepulauan Waigeo, Raja Ampat, Papua Barat (2028).
Pemutihan tahunan kemudian ditaksir meluas di 99 kawasan konservasi lainnya mulai 2044. Dua di antaranya adalah Kawasan Konservasi Daerah Gugusan Pulau-Pulau Momparang; Bangka Belitung (2049), maupun Kawasan Konservasi Daerah Pantai Penyu Pangumbahan di Sukabumi, Jawa Barat (2055).
Beberapa kawasan konservasi, termasuk Gili Matra, lebih banyak dihuni oleh karang berjenis acropora. Pakar terumbu karang dari Universitas Mataram, Imam Bachtiar, mengatakan karang jenis ini-meski tergolong yang cepat tumbuh-amat rentan oleh perubahan lingkungan seperti kenaikan temperatur laut.
"Ini jenis karang yang dianggap rentan terhadap panas. Begitu ada bleaching, mati," ujar Imam.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kerentanan ini terbukti. Pada Juni lalu, peneliti lembaga penelitian ekosistem laut Yayasan Gili Matra Bersama, Cakra Adiwijaya, mendapati terumbu karang di salah satu titik penyelaman Gili Air, mati karena penyakit skeletal eroding band.
Penyakit ini menyebabkan karang memutih lalu disertai bintik-bintik hitam-diduga akibat tak tahan panas. Saat itu, menurut Cakra, suhu rata-rata bulanan di perairan Gili matra mencapai 30°C atau lebih tinggi dari suhu rata-rata sekitar 28°C.
"Jadi kayak dia (karang) stres dulu karena suhu terus dia kena penyakit," tutur Cakra.
Sebaiknya Anda baca juga:
Imam mengatakan riset Laurence dan tim menjadi pukulan keras bagi pengelolaan kawasan konservasi perairan. Kawasan ini semestinya menjadi 'benteng terakhir' ekosistem penting di laut seperti terumbu karang, hutan mangrove, ataupun padang lamun dari perubahan iklim ataupun aktivitas perikanan.
Imam mengatakan Kementerian harus menyikapi riset ini secara serius. Pasalnya, terumbu karang adalah rumah bagi sekian banyak biota laut termasuk ikan-ikan, hiu, penyu, kepiting, udang, dan sebagainya.
Kerusakan ekosistem karang akan berdampak bagi sektor perikanan dan pariwisata masyarakat setempat. Sebab, sekitar 60% dari total populasi Indonesia bermukim di kawasan pesisir sehingga bergantung pada ekosistem karang yang sehat.
Menjaga karang-karang yang kuat
Studi Laurence dan tim menjadi lampu kuning bagi kelangsungan karang Indonesia di kawasan konservasi. Namun, persoalan ini bukan tanpa jalan keluar.
Koordinator Nasional Ilmu Kelautan dan Pengelolaan Ilmu Pengetahuan Yayasan WWF Indonesia, Muhammad Erdi Lazuardi, mengatakan bahwa Indonesia memiliki 16 dari 50 kawasan ekosistem terumbu karang dunia yang memiliki daya pulih tinggi terhadap pemanasan laut. Ini berdasarkan studi tahun 2018 oleh tim yang dipimpin peneliti University of Queensland Australia, Ove Hoegh-Guldberg.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!