Dampak Perubahan Iklim, Terumbu Karang di Indonesia Terancam Punah
📅 Jumat, 03 Nov 2023, 11:12 WIB | Oleh: Tim Penulis"BRIN menyampaikan beberapa kawasan area di Indonesia yg punya daya lenting tinggi seperti di Anambas (Kepulauan Riau)," kata Amehr.
Usaha lainnya adalah pembatasan kedatangan wisatawan di dalam kawasan konservasi sesuai daya dukung kawasan. Kebijakan ini sedang dirumuskan dalam rencana pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Gili Matra.
Pembatasan diperlukan agar kerusakan karang Gili Matra tidak semakin parah. Namun, usaha ini tidak mudah karena berisiko mengganggu perekonomian masyarakat. Apalagi Gili Matra termasuk kawasan pariwisata strategis yang menyumbangkan 45% pendapatan asli daerah Kabupaten Lombok Utara.
"Makanya perlu sosialisasi. Pilihannya mau hancur [ekosistem karang] mau terus usaha?" ujar Amehr.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kendati demikian, rencana pembatasan ternyata didukung oleh masyarakat setempat. Bahkan, menurut Kepala Dusun Gili Air: Sukding, pembatasan ini pertama kali diusulkan warga pada akhir tahun lalu. Alasannya, masyarakat juga mengkhawatirkan dampak dari serbuan wisatawan yang datang merusak lingkungan dalam jangka panjang.
Menurut Sukding, masyarakat mengusulkan wisatawan harus mendaftar secara daring sebelum masuk ke kawasan Gili Matra. Aktivitas snorkelling ataupun diving juga, kata dia, wajib dibatasi pada jam-jam tertentu saja dengan sistem kuota. Kedatangan wisatawan pun tak boleh hanya di satu titik penyelaman ataupun snorkeling tertentu, tapi tersebar di titik lainnya.
Selain mencegah kerusakan ekosistem karang, Sukding menganggap usulan ini juga dapat memeratakan pendapatan wisata ke warga tiga desa: Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno. "Sangat banyak komplain dari teman-teman di Gili Meno karena penumpukan wisatawan (di titik penyelaman dan snorkelling) juga dan tempat mereka rusak semuanya. Terus mereka cuma menonton saja (tidak kedatangan wisatawan)," tutur Sukding.
Sebaiknya Anda baca juga:
Jurnalis lepas Moyang Kasih Dewimerdeka turut berkontribusi sebagai penulis dalam artikel ini.
Sukding (warga Dusun Gili Air); Amehr Hakim (Kepala Subdirektorat Penataan Kawasan Konservasi Kementerian Kelautan dan Perikanan); dan Muhammad Erdi Lazuardi (National Coordinator for Marine Science and Knowledge Management Yayasan WWF Indonesia) turut diwawancara untuk kepentingan penulisan artikel ini.![]()
Robby Irfany Maqoma, Environment Editor, The Conversation
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!