Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Risiko Gagal Panen Akan Meningkat akibat Fenomena El Nino

📅 Selasa, 17 Okt 2023, 00:11 WIB | Oleh:
Risiko Gagal Panen Akan Meningkat akibat Fenomena El Nino Doc: ISTIMEWA
Ket. Petani

PURWOKERTO - Ancaman musim kemarau yang panjang akibat fenomena El Nino akan meningkatkan risiko kegagalan panen karena kekeringan. Untuk itu, semua pihak hendaknya bersama-sama mengantisipasi krisis pangan akibat dampak perubahan iklim.

"Maka, setiap negara harus memiliki mitigasi krisis pangan yang tangguh dan berkelanjutan semakin penting," ungkap pakar pertanian dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Totok Agung Dwi Haryanto, di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Senin (16/10).

Oleh karena itu, tambah Guru Besar Fakultas Pertanian Unsoed, pembahasan mengenai pangan selalu sangat strategis untuk dijadikan isu kajian setiap bangsa yang ada di dunia dalam rangka menjaga keberlangsungan dan keberlanjutan suatu bangsa.

"Isu global sampai 100 tahun ke depan, masalah pangan masih menjadi yang nomor satu, termasuk di dalamnya adalah air. Yang kedua itu isu mengenai energi," kata Totok.

Seperti dikutip dari Antara, Totok mengatakan beberapa negara sudah melakukan usaha di antaranya dengan membatasi atau bahkan menghentikan ekspor komoditas pangan. Hal itu menjadi ancaman serius bagi negara-negara yang selama ini dalam menyelesaikan persoalan pangan tersebut dengan mencari solusi melalui impor pangan, termasuk Indonesia.

"Oleh karena itu, Indonesia harus melakukan upaya-upaya yang lebih serius mengantisipasi hal tersebut, di antaranya yang paling penting memperbaiki saluran-saluran irigasi yang ada sehingga jangkauan air irigasi itu bisa semakin luas," jelasnya.

Pemasok Utama

Apa yang disampaikan Totok ini menanggapi pernyataan Pelaksana Tugas Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, yang mengatakan Vietnam dan Thailand menjadi pemasok utama beras Indonesia setelah India memberlakukan restriksi ekspor beras sejak 20 Juli 2022.

"Tentu impor kita beralih ke negara lain sehingga proporsi impor beras Indonesia terbesar berasal dari Vietnam dan Thailand," katanya dalam jumpa pers di Jakarta, Senin.

Lebih lanjut, Amalia menjelaskan proporsi beras asal India pada September 2023 hanya sebesar 0,39 persen dari total impor beras. Sementara itu, impor beras dari Vietnam sebesar 74,06 persen, beras asal Thailand sebesar 24,35 persen, dan negara lainnya 1,2 persen.

Selain India, terang Amalia, Bangladesh dan Russia juga menerapkan restriksi ekspor beras, namun dua negara tersebut bukan negara asal impor beras utama sehingga tidak memberikan dampak bagi Indonesia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
DLH Cirebon Kerahkan 9 Truk...
Daerah
Kasus yang Melingkungi Proy...
Daerah
Polres Kerinci Bahas Distri...
Olahraga
Sabalengka di Luar Dugaan D...

Tim Piala Dunia, Maroko Dapat Menjadi Kuda Hitam

41 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Tim Piala Dunia, Maroko Dap...
Olahraga
Laga Generasi Baru Menuju F...

Tim Piala Dunia, Mampukan Brasil Juara Keenam Kalinya?

53 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Tim Piala Dunia, Mampukan B...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.