Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kolaborasi Kunci Hadapi Bencana Iklim

📅 Selasa, 17 Okt 2023, 08:34 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Kolaborasi Kunci Hadapi Bencana Iklim Doc: istimewa

JAKARTA - Kolaborasi lintas pemangku kepentingan atau stakeholder menjadi kunci utama menghadapi ancaman krisis air dan pangan global. Tanpa itu, negara-negara berkembang dan miskin tak akan berdaya menghadapi ancaman perubahan iklim.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, menekankan dampak perubahan iklim terhadap negara berkembang dan negara kepulauan sangatlah besar. Data World Meteorological Organization (WMO), cuaca ekstrem dari 1971-2021 menyebabkan 11.778 bencana.

"Dampaknya ke negara berkembang dan kepulauan sangat besar dibanding ke negara maju," ujarnya dalam diskusi virtual terkait "Kolaborasi Global Antisipasi Dampak Krisis Air Dampak Perubahan Iklim" yang digelar FMB9 di Jakarta, Senin (16/10).

Disebutkan sekitar tujuh persen dari bencana menimbulkan kerugian 5 hingga 30 persen dari produk domestik bruto (PDB) negara berkembang dan untuk negara kepulauan kecil 20 persen dari bencana menimbulkan kerugian 5 hingga melebihi 100 persen daei PDB.

"Yang dialami negara berkembang dan kepulauan jauh lebih berat dibanding yang dialami negara maju yang hanya alami kerugian 0,1 persen dari PDB," ungkap Dwikorita.

Karena itu, lanjut Dwikorita, kolaborasi itu menjadi penting. Negara maju harus membantu negara berkembang karena keterbatasan sains dan teknologi terkait iklim. Kapasitas pengetahuan dan teknologi negara berkembang masih belum mumpuni untuk memitigasi dampak perubahan iklim.

Untuk itu, dirinya berharap Forum Air Dunia (WWF) di Bali pada 18-24 Mei 2024, menjadi momentum kolaborasi untuk mengantisipasi krisis air secara global. Dalam keketuaan WWF ke-10 nanti, Indonesia mengambil peran penengah untuk dapat mempersuasi pertukaran pengetahuan dan teknologi dalam mencegah krisis air akibat perubahan iklim.

Selain kolaborasi lintas negara di dalam negeri sendiri, kolaborasi itu harus dilakukan lintas instansi. "Sebab, kami (BMKG) misalnya tidak bisa bekerja membangun infrastruktur, ada lembaga yang menangani itu, kami hanya bisa memberikan informasi untuk selanjutnya diterjemahkan menjadi kebijakan," ungkap Dwikorita.

Dia menegaskan permasalahan air merupakan masalah kompleks. "Karenanya, keterlibatan berbagai elemen dalam society menjadi penting untuk mengatasi perubahan iklim yang berujung pada krisis air," katanya.

Pasokan Minim

Juru Bicara Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) selaku Wakil Ketua Sekretariat Panitia Nasional WWF, Endra S Atmawidjaja, menuturkan dari sisi pasokan air sendiri Indonesia masih kalah jauh dari jumlah bendungan yang dimiliki Tiongkok. Ini mengancam ketahanan pangan RI.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.