Mayoritas Warga Asean Dukung Penghentian Penggunaan Batu Bara
📅 Jumat, 13 Okt 2023, 00:02 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: ANTARA/NOVA WAHYUDI
SINGAPURA - Masyarakat di Asia Tenggara (Asean) kini semakin paham mengenai perubahan iklim, namun gejolak politik dan kekhawatiran ekonomi mengalihkan mereka dari urgensi pemanasan global.
Dikutip dari The Straits Times, akademisi iklim terkemuka berdasarkan survei terbarunya mengatakan sekitar 65 persen responden mendukung penghentian penggunaan batu bara secara bertahap segera atau pada 2030.
"Saya pikir masyarakat pada umumnya memiliki persepsi positif mengenai transisi dari penggunaan bahan bakar fosil ke sumber energi yang lebih berkelanjutan," kata Sharon Seah, rekan senior dan koordinator di Pusat Studi Asean dan Program Perubahan Iklim di Asia Tenggara, ISEAS -Yusof Ishak Institute.
Sejak 2020, ISEAS (Institute of Southeast) Asian Studies - Yusof Ishak Institute di Singapura telah menyelenggarakan survei iklim tahunan Asia Tenggara mengenai sikap kawasan mengenai ancaman perubahan iklim, dan cara terbaik untuk mengatasi krisis ini.
Selama empat tahun terakhir, keraguan mengenai apakah manusia bertanggung jawab atas perubahan iklim telah hilang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada 2020, lembaga ini bertanya kepada responden tentang sejauh mana aktivitas manusia menyebabkan perubahan iklim, apakah aktivitas tersebut tidak bertanggung jawab, bertanggung jawab sebagian, atau sebagian besar bertanggung jawab.
Mayoritas negara-negara Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara atau Association of Southeast Asian Nations (Asean), mengatakan aktivitas manusia adalah penyebab utama bencana ini.
"Kita benar-benar menghilangkan pertanyaan itu," kata Sharon Seah, rekan senior dan koordinator di Pusat Studi Asean dan Program Perubahan Iklim di Asia Tenggara, ISEAS - Yusof Ishak Institute.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dia mengatakan tidak dapat disangkal manusialah yang menyebabkan perubahan iklim. Tim Seah menjalankan survei tahunan, edisi terbaru yang diterbitkan pada September.
Lembaga ini menerima 2.225 tanggapan terhadap kuesioner online selama Juli dan Agustus dari masyarakat di 10 negara anggota Asean mulai dari akademisi, pelajar dan pensiunan, hingga pemerintah, lembaga think tank, dan masyarakat sipil.
Jadi Ancaman
Meskipun suhu global mengalami panas ekstrem, kebakaran hutan, dan banjir dalam beberapa bulan terakhir, Seah mengatakan hanya kurang dari separuh atau 49,4 persen, dari mereka yang disurvei merasa perubahan iklim merupakan ancaman langsung.
Angka ini turun dari 68,8 persen pada survei tahun 2021, namun naik sedikit dari 46,6 persen pada tahun 2022. "Jelas sekali, itu bukan hal yang utama. Mengapa? Karena di kawasan ini kita melihat banyak perubahan," kata Seah merujuk pada pemilu yang baru-baru ini dan yang akan datang serta ketidakpastian politik.
Kedua, terdapat banyak kekhawatiran di wilayah ini pascapandemi, seperti peningkatan pendapatan dan kesenjangan sosial. Kekhawatiran ini semakin diperparah oleh tekanan inflasi, kenaikan suku bunga, dan gangguan ekonomi, terutama terkait persaingan politik antara AS dan Tiongkok.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!