Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Titik Kuantum Antarkan Para Penemunya Raih Nobel

📅 Rabu, 11 Okt 2023, 06:10 WIB | Oleh:
Titik Kuantum Antarkan Para  Penemunya Raih Nobel Doc: AFP/ Jonathan NACKSTRAND

Hadiah Nobel Kimia 2023 diberikan kepada tiga ilmu yang menemukan titik kuantum. Penemuan kelas material baru mereka telah berguna dalam pembuatan TV layar lebar dan operasi kanker.

Anugerah Nobel Kimia 2023 diberikan kepada tiga ilmuwan atas penemuanQuantum Dot(QD) atau titik kuantum pada Rabu (4/10) lalu. Titik kuantum adalah nanopartikel yang sangat kecil yang salah satu sifatnya dapat mengontrol warna. Penemuannya telah membuat teknologi ini sangat berharga dalam aplikasi mulai dari tampilan warna besar hingga produksi energi.

Pemenangnya adalah Moungi Bawendi dari Massachusetts Institute of Technology, Louis Brus dari Columbia University, dan Alexei Ekimov dari perusahaan Nanocrystals Technology di Negara Bagian New York. Ketiga ilmuwan tersebut akan berbagi hadiah sebesar 11 juta kronor Swedia, atau hampir 1 juta dollar AS.

Mampu menghasilkan banyak sekali warna, titik-titik kuantum adalah materi umum di layar televisi besar saat ini. Pada dasarnya titik-titik ini berupa kristal kecil, tetapi lebih mudah untuk menganggap masing-masing kristal sebagai bola terkompresi dengan diameter beberapa nanometer dan mengandung elektron.

Elektron adalah kunci cara kerja titik kuantum. Melalui kompresi, memungkinkan elektron menyimpan lebih banyak energi. "Jika Anda mengambil sebuah elektron dan memasukkannya ke dalam ruang kecil, fungsi gelombangnya akan terkompresi dan berarti elektron memiliki lebih sedikit kebebasan untuk bergerak," papar Heiner Linke, anggota Komite Nobel Kimia.

Salah satu penemuan yaitu Bawendi. Ketika dihubungi melalui telepon oleh Royal Swedish Academy of Sciences setelah pengumuman tersebut, mengatakan bahwa dia sangat terkejut, tak percaya dan sangat tersanjung, seperti dikutip dariScientific American.

Berita tersebut disambut dengan tepuk tangan oleh ahli kimia lainnya. "Nanopartikel luar biasa ini memiliki potensi besar untuk menciptakan perangkat yang lebih kecil, lebih cepat, lebih cerdas, meningkatkan efisiensi panel surya dan kecemerlangan layar TV Anda," kata Gill Reid, Presiden Royal Society of Chemistry dan ahli kimia anorganik di Universitas Southampton, Inggris, dalam pernyataannya baru-baru ini. "Sangat menarik dan menunjukkan bagaimana kimia dapat digunakan untuk memecahkan berbagai tantangan," imbuh dia.

Meskipun efek kuantum sering dianggap sebagai bidang fisika, Judith Giordan, ahli kimia dan presiden American Chemical Society, menyatakan dengan tegas bahwa titik adalah produk kimia.

"Kita memiliki elektron. Mereka ada di setiap atom," kata Giordan. "Meskipun efek dari pengekangan elektron dalam ruang kecil telah diteorikan oleh para fisikawan, namun ahli kimialah yang memindahkan elektron ke dalam arsitektur atom yang baru, yang menemukan cara untuk memproduksinya di laboratorium dan kemudian di lingkungan manufaktur," imbuh dia.

Gagasan tentang titik kuantum pertama kali muncul dalam teori pada 1930-an dan kemudian terhenti selama beberapa dekade. Namun pada awal 1980-an, Ekimov memasukkan nanopartikel tembaga klorida ke dalam kaca dan menunjukkan bahwa ukuran partikel mengubah warna kaca melalui efek kuantum.

Beberapa tahun kemudian ilmuwan Brus mencapai perubahan warna serupa dengan nanopartikel yang mengambang bebas dalam cairan. Sedangkan Bawendi, pada 1993, mengembangkan cara untuk menstandarisasi produksi titik, yang membuka peluang bagi banyak laboratorium dan perusahaan lain.

"Dia membuatnya mudah," kata ahli kimia Rigoberto Advincula, yang bekerja pada teknologi skala nano di Universitas Tennessee, Knoxville. "Laboratorium Bawendi menciptakan semacam 'sup' zat lain yang menempel pada benih titik kuantum dan mengatur pertumbuhannya secara tepat," kata Advincula.

Bagi Advincula, ini adalah cara sederhana untuk mengontrol ukurannya dan menyesuaikannya untuk menghasilkan tingkat energi yang berbeda.

Selain layar besar dan panel surya, titik-titik digunakan untuk menyesuaikan warna lampu LED agar tidak terlalu tajam. Ilmuwan medis juga menjajaki penggunaannya sebagai sensor dan pemindai untuk molekul yang sulit ditemukan di dalam tubuh.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Megapolitan
BMKG: Sebagian Jakarta Baka...

Naomi Siap Hadapi Elise Mertens

1.5 jam yang lalu | Opik

Olahraga
Naomi Siap Hadapi Elise Mer...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.