Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kemandirian Pangan Sulit Terwujud

📅 Kamis, 14 Sep 2023, 10:10 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Kemandirian Pangan Sulit Terwujud Doc: ISTIMEWA

JAKARTA - Pemerintah dinilai tak mampu meningkatkan produksi beras, terlebih di saat harga bahan pokok tersebut naik. Karena itu, kemandirian pangan ke depan mustahil dapat terwujud dan dikhawatirkan terus bergantung kepada impor.

Pengamat ekonomi Universitas Indonesia (UI), Eugenia Mardanugraha, menilai impor 400 ribu ton mengindikasikan adanya sengkarut data pangan. Menurutnya, masalah data yang cukup parah dialami oleh Indonesia. Padahal, dari data ini pula digunakan untuk mengukur sejauh mana kemandirian pangan.

"Indonesia tidak memiliki catatan produksi pangan yang sebenarnya, sehingga pengadaan impor belum tentu didukung oleh data akurat," ujarnya kepada Koran Jakarta, Rabu (13/9).

Eugenia menambahkan saat harga beras naik, produksi beras semestinya juga ikut naik. Selain itu, alternatif makanan bukan beras juga akan meningkat. Dirinya menilai pemerintah tidak mampu mengantisipasi penurunan produksi imbas fenomena cuaca ekstrem, El Nino.

Sementara itu, Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan, menegaskan pasokan beras untuk masyarakat cukup. Untuk itu, masyarakat tidak perlu khawatir karena pemerintah telah menugaskan Perum Bulog untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan beras.

Penegasan ini disampaikan Mendag Zulkifli Hasan usai meninjau Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) bersama Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo, di Jakarta Timur, Rabu (13/9). Turut mendampingi Mendag Zulkifli Hasan, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Isy Karim.

"Di beberapa daerah, harga beras sudah mulai stabil, tapi ada beberapa tempat yang mengalami kenaikan. Oleh karena itu, pemerintah melakukan intervensi. Masyarakat tidak usah khawatir, berapa pun permintaan beras di masyarakat, Bulog harus bisa menyediakan," tegasnya, kemarin.

Mendag menyampaikan stok beras di Perum Bulog pada 12 September 2023 tercatat sebesar 1,50 juta ton dengan rincian stok cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 1,44 juta ton dan stok untuk komersial sebanyak 55,74 ribu ton. Selain itu, masih akan ada tambahan pengadaan beras untuk memperkuat stok CBP.

"Karena itu, pemerintah percaya diri, berapa pun permintaan akan digelontorkan ke pasar. Kita lihat dampaknya setelah seminggu, mudah-mudahan sedikit turun. Beras dari Bulog akan sampai kepada masyarakat dengan harga 10.900 rupiah per kg," jelas Mendag.

Salurkan Beras

Sementara itu, Arief mengungkapkan pemerintah telah menggelontorkan beras ke PIBC sebanyak 1.000-3.000 ton dan akan menyalurkan kembali setelah pedagang di PIBC mempunyai info detail pasar turunannya.

"Kami meminta masyarakat untuk menginfokan kepada pemerintah jika belum ada beras Bulog program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di pasar turunan. Tolong masyarakat memastikan beras SPHP dengan harga di PIBC sebesar 10.385 rupiah per kg dan di pasar turunannya maksimal sebesar 10.900 rupiah per kg," ucap Arief.

Disampaikannya, PIBC merupakan barometer pasar beras nasional, sehingga mulai hari ini beras SPHP kita salurkan pula di sini untuk memastikan bahwa beras SPHP secara masif kita gelontorkan kepada masyarakat sehingga harga beras dapat ditekan dan inflasi tetap terjaga sesuai arahan Presiden.

"Dengan digelontorkannya beras SPHP ke PIBC ini semakin memperluas jangkauan beras SPHP yang sebelumnya juga sudah kita gelontorkan ke pasar tradisional dan ritel modern." ujar Arief

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Nasional
Persoalan HAM Harus Diseles...
Luar Negeri
Liga Arab Kukuhkan Nabil Fa...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.