Harga Minyak Dunia Diprediksi Turun Imbas Damai Iran–AS, Pertamax Bisa Ikut Melandai
📅 Jumat, 19 Jun 2026, 06:00 WIB | Oleh: Tim PenulisJakarta – Harga minyak dunia diperkirakan akan mengalami penurunan secara bertahap jika kesepakatan perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat (AS) benar-benar terwujud. Kondisi ini dinilai dapat menjadi sentimen positif bagi pasar energi global karena berpotensi meredakan ketegangan geopolitik yang selama ini mendorong volatilitas harga minyak.
Pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyaki menilai potensi perdamaian antara Iran dan AS dapat menjadi sentimen positif bagi pasar energi global, terutama dengan menekan harga minyak mentah dunia.
“Pasti terjadi penurunan harga, dan bisa berdampak ke BBM Pertamax, tetapi untuk mencapai harga Pertamax sampai Rp12.300 lagi tidak akan secepat itu,” kata Yayan dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (18/6).
Menurut Yayan, tren penurunan harga minyak dunia akan berdampak pada harga BBM nonsubsidi di dalam negeri, termasuk Pertamax. Namun, penurunan harga ke level sebelumnya diperkirakan tidak terjadi dalam waktu singkat karena akan berlangsung secara bertahap.
Ia memperkirakan harga minyak dapat terkoreksi sekitar 1–3 persen per hari dalam beberapa bulan ke depan, tergantung pada perkembangan geopolitik dan implementasi perdamaian kedua negara.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pasar energi global juga masih mencermati pergerakan harga minyak mentah jenis Brent yang saat ini menunjukkan tren pelemahan. Yayan menyebut Brent berpotensi terus turun hingga awal Juli 2026 sebelum kembali naik pada Agustus–September 2026 seiring berakhirnya musim panas di belahan bumi utara.
“Kita lihat harga Brent semakin turun, dan kemungkinannya akan terus diturunkan hingga awal Juli. Setelah itu berpotensi naik lagi pada awal Agustus hingga September ketika musim panas berakhir,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menilai pasar minyak global belum akan mencapai keseimbangan harga baru dalam waktu dekat. Berdasarkan proyeksi Short Term Energy Outlook (STEO) dari Energy Information Administration (EIA) Amerika Serikat, pasar masih berada dalam fase transisi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Produksi minyak AS yang diperkirakan mencapai 14 juta barel per hari juga disebut akan menjadi faktor penahan kenaikan harga pascaperdamaian. Yayan memperkirakan harga minyak dunia akan bergerak di kisaran 80–90 dolar AS per barel hingga akhir tahun, lalu berpotensi turun ke 75–85 dolar AS per barel pada akhir tahun atau awal tahun depan.
Dinamika Global
Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Aida S. Budiman menyebut kenaikan BBM nonsubsidi berpotensi menyumbang inflasi sekitar 0,25 persen, meski inflasi nasional masih terjaga pada kisaran 1,5–3,5 persen.
Ia menjelaskan, harga BBM nonsubsidi masih akan berfluktuasi mengikuti dinamika harga minyak global. Beberapa jenis BBM seperti Pertamax dan Pertamax Turbo bahkan sempat naik hingga Rp4.000 per liter, sementara Dexlite dan Pertamina Dex turun sekitar Rp3.000 per liter.
“Tentunya ini akan berfluktuasi tergantung dari harga global tadi. Untuk sementara, hitungan kami lebih kurang dia berkontribusi sekitar 0,25 persen kepada inflasi,” kata Aida dalam konferensi pers daring hasil Rapat Dewan Gubernur BI di Jakarta.
Selain BBM, BI juga mencermati potensi imported inflation dari kenaikan harga komoditas global seperti pupuk akibat ketegangan geopolitik. Namun, ketersediaan stok dalam negeri dinilai masih mampu menjaga stabilitas harga pupuk bagi petani.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!