Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kebijakan ‘Link and Match’ Dinilai tidak Tepat untuk Perguruan Tinggi, Kenapa?

📅 Senin, 11 Sep 2023, 13:32 WIB | Oleh: Tim Penulis

Artinya, pendidikan vokasi lebih mengutamakan pendidikan yang bersifat praktis dan terapan, khususnya keterampilan yang memiliki relevansi langsung dengan tuntutan dunia kerja.

Program-program yang ditawarkan oleh pendidikan vokasi fokus pada pelatihan keterampilan teknis yang spesifik, seperti teknik, kesehatan, pariwisata dan bidang lainnya.

Tujuan utama dari sekolah vokasi adalah mencetak lulusan yang memiliki kesiapan untuk langsung masuk ke dunia kerja dan memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Karenanya, konsep link & match dari Kampus Merdeka tepat untuk diterapkan di sekolah vokasi.

Perlu kejelasan sejak awal

Di Indonesia, terdapat 3.107 perguruan tinggi, sementara jumlah lembaga pendidikan vokasi hanya berada di angka 1365.

Bandingkan dengan Jepang, misalnya, yang hanya memiliki 807 perguruan tinggi menurut data dari Ministry of Education, Culture, Sports, Science and Technology (MEXT). Jumlah ini jauh lebih sedikit dari pendidikan vokasinya yang mencapai 2721 lembaga.

Padahal, menurut sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2021, baik Indonesia maupun Jepang memiliki tujuan pendidikan yang relatif sama, yakni mengembangkan manusia agar tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter dan berguna bagi masyarakat luas.

Mengacu pada informasi dari Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, sistem pendidikan di Jepang memiliki kebijakan wajib belajar selama sembilan tahun, yang terdiri dari enam tahun di sekolah dasar dan tiga tahun di sekolah menengah pertama. Kemudian setelah seseorang menyelesaikan wajib belajarnya, ia dapat memilih apakah ingin melanjutkan ke jenjang vokasi atau studi lanjut ke sekolah menengah atas.

Sejak awal, pemerintah Jepang sudah mengarahkan dengan jelas perbedaan antara jalur pendidikan vokasi dengan jalur sekolah menengah atas - perguruan tinggi. Itulah sebabnya, jumlah pendidikan vokasi di Jepang jauh lebih banyak dari jumlah perguruan tinggi.

Berdasarkan data tersebut, barangkali yang kita butuhkan bukan memaksakan konsep link and match pada perguruan tinggi, tetapi menambah jumlah pendidikan vokasi agar masyarakat dapat leluasa memilih jenis sekolah berdasarkan kebutuhan dan pilihannya masing masing.The Conversation

Yogie Pranowo, Adjunct Associate Lecturer Studi Humaniora, Universitas Multimedia Nusantara

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Rano karno Buka Jakarta Financial Festival Blok M Square

28 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Rano karno Buka Jakarta Fin...

Pengamat : Salvage KMP Batumandi Patut Dicontoh

41 menit yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Pengamat : Salvage KMP Batu...

Jakarta Merintis Diri Menjadi Hub Ekonomi Kreatif

42 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Jakarta Merintis Diri Menja...
Daerah
Mau Tahu Alasan Dedi Mulyad...
Ekonomi
GoPay Permudah Masyarakat I...
Megapolitan
Waoooww….Warga Bandung ak...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.