Kebijakan ‘Link and Match’ Dinilai tidak Tepat untuk Perguruan Tinggi, Kenapa?
📅 Senin, 11 Sep 2023, 13:32 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ugm.ac.id
Yogie Pranowo, Universitas Multimedia Nusantara
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menggalakkan program Kampus Merdeka dengan semangat link and match untuk mengatasi kesenjangan antara kualifikasi pendidikan dan tuntutan industri.
Link and match adalah kebijakan Kemendikbudristek yang dikembangkan untuk meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan kerja, usaha serta industri.
Salah satunya melalui program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengasah keterampilannya yang komprehensif guna mempersiapkan karirnya kelak.
Namun, kebijakan yang berorientasi pada kesiapan kerja tersebut kurang tepat jika diterapkan pada perguruan tinggi. Link and Match di program Kampus Merdeka lebih cocok untuk pendidikan vokasi. Mengapa?
Sebaiknya Anda baca juga:
1. Perguruan tinggi berorientasi teori
Perguruan tinggi memiliki perbedaan mendasar dengan pendidikan vokasi. Perguruan tinggi umumnya memiliki orientasi yang lebih luas dan teoritis, menyediakan berbagai program studi yang melibatkan berbagai disiplin ilmu seperti ilmu sosial, humaniora, sains, dan seni.
Menurut Sri Shanti Ariani, dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Darul Kamal NW Kembang Kerang, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), perguruan tinggi memiliki fokus yang lebih luas dari pendidikan vokasi, yakni membantu setiap individu tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih bijaksana, penuh empati, bertanggung jawab, serta memiliki kemampuan untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat dan dunia sekitarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Proses pendidikan di perguruan tinggi bertujuan meningkatkan kemampuan refleksi seseorang dalam melihat berbagai persoalan hidup. Hal ini mengisyaratkan bahwa manusia tidak hanya menjalani hidup secara mekanis, tetapi juga memberi arti pada pengalaman-pengalamannya tersebut.
Selain itu, proses pendidikan di perguruan tinggi dapat membantu seseorang memahami bahwa apa yang kita pelajari dan alami tidak hanya berdampak pada diri kita sendiri, tetapi juga pada orang lain.
Sehingga, proses pendidikan di perguruan tinggi melibatkan pendalaman pemahaman dengan cara yang lebih sistematis dan dinamis.
Hal ini sebagaimana tertuang dalam Permendikbudristek no 53 tahun 2023 pasal 9 ayat e yang menyebutkan bahwa kompetensi utama lulusan seorang sarjana adalah ia harus menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan dan keterampilan secara umum dan khusus untuk menyelesaikan masalah sesuai dengan lingkup pekerjaannya.
2. Kebutuhan industri adalah orientasi pendidikan vokasi
Dalam Peraturan Presiden nomor 68 tahun 2022 tentang Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi, disebutkan di dalam Bab III, pasal 8 ayat 1 bahwa prinsip dasar penyelenggaraan dan pendidikan vokasi berorientasi pada kebutuhan dunia usaha, berbasis kompetensi dan inklusif.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!