Riset Ilmu Sosial Tidak Penting Dibanding Ilmu Alam, Benarkah?
📅 Selasa, 22 Agu 2023, 10:35 WIB | Oleh: Tim PenulisMemiliki pengetahuan terhadap fenomena sosial dan pengalaman pribadi membuat masyarakat familiar dengan tema-tema yang diangkat dalam riset ilmu sosial. Konsekuensinya, mereka hanya memberi sedikit respek terhadap analisis ilmiah yang dilakukan para ilmuwan sosial terhadap sebuah fenomena sosial.
Kondisi ini membuat sebagian masyarakat memandang kajian yang dilakukan para peneliti sosial dengan sebelah mata. Bahkan tak jarang menganggap temuan riset sosial sebagai sesuatu yang tidak terlalu penting.
Mengapa kita perlu riset ilmu sosial?
1. Riset ilmu sosial membantu kita memahami perilaku manusia
Sebaiknya Anda baca juga:
Riset ilmu sosial yang dilakukan oleh peneliti sosial tidak sekedar melihat masalah dari permukaan. Peneliti sosial berupaya mengobservasi fenomena, membangun hipotesis, melakukan penelitian dengan metodologi yang jelas, menganalisis temuan, dan menyimpulkan gejala sosial yang dapat diuji kebenarannya secara ilmiah.
Apalagi kini kita hidup dalam era Anthropocene yaitu masa ketika aktivitas kolektif manusia, seperti migrasi, penebangan hutan dan sampah, memberikan dampak yang besar terhadap bumi. Besarnya pengaruh manusia terhadap alam dan kehidupan membuat riset ilmu sosial menjadi krusial untuk dilakukan. Sebab, ilmu sosial membantu kita memprediksi bagaimana dan mengapa manusia bertindak.
Riset sosial membantu kita memahami orang dan masyarakat yang berbeda. Informasi yang dikumpulkan dari riset sosial dapat membantu kita memprediksi perilaku individu atau kelompok tertentu. Sebagai contoh konflik agama dan isu rasial yang merembet pada kekerasan, pembunuhan, dan aksi terorisme. Dalam konteks ini, hasil riset sosial dapat membantu menemukan akar permasalahan dan menawarkan opsi solusi untuk perbaikan.
Sebaiknya Anda baca juga:
2. Riset ilmu sosial membantu kita memberi rekomendasi kebijakan
Salah satu peran penting hasil riset sosial bagi Indonesia dapat dilihat melalui perumusan kebijakan pada masa pandemi COVID-19. Misalnya, kajian tentang bagaimana mobilitas masyarakat bertindak terhadap pembatasan kegiatan masyarakat selama pandemi dapat membantu mencegah kepanikan selama pandemi.
Contoh lain, riset mengenai budaya pop dapat memberikan rekomendasi kepada pemangku kepentingan untuk mengembangkan industri ekonomi kreatif Indonesia. Budaya pop yang banyak dikonsumsi dan diminati oleh masyarakat menunjukkan bagaimana realitas yang terjadi di masyarakat. Meskipun saat ini riset seni dan budaya belum menjadi prioritas di Indonesia, namun berpotensi menjadi pilar ekonomi di masa depan. Seperti Hollywood di Amerika Serikat dan Korean Wave di Korea Selatan yang memberikan kontribusi signifikan terhadap ekonomi kedua negara.
3. Riset ilmu sosial membantu kita memahami problematika masyarakat
Tanpa adanya ilmuwan sosial, kita akan kesulitan untuk menjelaskan berbagai masalah sosial dan cara kerja masyarakat seperti masalah ketimpangan kelas sosial, kemiskinan, hak buruh, aktivitas politik masyarakat dan kekerasan terhadap perempuan.
Selain itu, kita juga akan kesulitan dalam menjelaskan fenomena terkini yang menyebar luas (viral) di masyarakat. Misalnya, masalah kesehatan mental, tren flexing atau atau perilaku memamerkan kekayaan di media sosial, hingga maraknya budaya fandom di kalangan anak muda.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!