Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Riset Ilmu Sosial Tidak Penting Dibanding Ilmu Alam, Benarkah?

📅 Selasa, 22 Agu 2023, 10:35 WIB | Oleh: Tim Penulis
Riset Ilmu Sosial Tidak Penting Dibanding Ilmu Alam, Benarkah? Doc: The Conversation/Shutterstock/Arthimedes
Ket. Berdasarkan data Scimago Country Rank, Indonesia menempati peringkat ke-14 dari 237 negara di dunia untuk kategori jumlah publikasi riset sosial pada 2022.

Ranny Rastati, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Ilmu sosial sudah hadir sejak era tokoh filsafat Yunani kuno seperti Plato dan Aristoteles.

Pada era modern, terminologi ilmu sosial muncul pada abad ke-19 ketika filsuf Prancis Auguste Comte memperkenalkan pandangan bahwa perilaku sosial dapat diteliti secara ilmiah. Kemudian, Emile Durkheim, seorang sosiolog Prancis, melakukan terobosan dengan mempelajari masyarakat manusia secara objektif dan menggunakan metode ilmiah yang ketat.

Meskipun telah memiliki perjalanan sejarah yang panjang, masih banyak masyarakat yang belum memahami nilai penting ilmu sosial. Sebagai peneliti sosial, contohnya, saya kerap menerima kritik dari masyarakat ketika melakukan riset karena banyak yang masih beranggapan bahwa ilmu sosial adalah ilmu kelas dua jika dibandingkan dengan ilmu alam.

Beberapa penyebabnya adalah:

1. Ilmu sosial tidak memiliki kondisi tetap

Pada 1962, Fritz Machlup, ahli ekonomi kelahiran Austria yang sempat mengajar di Johns Hopkins University dan Princeton, Amerika Serikat, pernah menulis tentang inferioritas ilmu sosial terhadap ilmu alam.

Menurut Machlup, ada tiga alasan mengapa ilmu alam dianggap lebih tinggi dari ilmu sosial yaitu ilmu alam memiliki kondisi yang konsisten, dapat dibuktikan kebenarannya, dan memiliki nilai yang tetap.

Di sisi lain, ilmu sosial hadir dalam bentuk yang dinamis dan tidak memiliki nilai tunggal saat menginterpretasikan gejala sosial. Temuan-temuan dalam penelitian sosial sedikit banyak bergantung pada perspektif dan interpretasi peneliti sehingga mungkin saja terjadi bias.

Apalagi temuan dalam riset sosial sulit untuk direplikasi dan direproduksi di situasi yang serupa. Hal inilah yang membuat sebagian kalangan menganggap bahwa ilmu sosial 'tidak sepasti' ilmu alam sehingga dipertanyakan nilai pentingnya.

2. Dampak riset ilmu sosial tidak langsung

Terdapat pandangan umum bahwa ilmu alam adalah ilmu yang sulit dan hanya dapat diakses oleh orang-orang dengan tingkat kecerdasan tinggi. Apalagi, hasil penemuan para ilmuwan sains dianggap lebih berdampak nyata bagi kehidupan umat manusia. Sebagai contoh teknologi pesawat, telepon seluler, dan vaksin.

Sementara itu, hasil riset peneliti sosial dianggap "sekadar" sebagai produksi pengetahuan berupa buku, jurnal ilmiah, dan naskah kebijakan yang menjelaskan gejala sosial yang terjadi di masyarakat. Ditambah lagi, hanya sebagian kecil dari hasil penelitian ilmu sosial yang memiliki produk berbentuk fisik dan dipatenkan.

3. Tema riset ilmu sosial terlalu familiar

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Timothy Ivan Triyono Mundur dari Bakom RI

1.5 jam yang lalu | Lili Lestari

Nasional
Timothy Ivan Triyono Mundur...
Luar Negeri
AS Kirim Dua Jet Tempur F-1...
Advertisement
Antrean Menyusut Jadi 0,5 Kilometer, Layanan Ketapang–Gilimanuk Makin Terkendali

Antrean Menyusut Jadi 0,5 Kilometer, Layanan Ketapang–Gilimanuk Makin Terkendali

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.