Jelang Pemilu 2024, Pemilih Pemula Rentan Terkena ‘Obesitas’ Informasi
📅 Senin, 21 Agu 2023, 13:55 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya
Rahmat Fadhli, The University of Melbourne
Artikel ini merupakan bagian dari rangkaian serial "#PemilihMuda2024"
Salah satu kategori pemilih yang sangat menarik untuk diteliti menjelang pemilihan umum (pemilu) adalah pemilih pemula.
Kelompok pemilih pemula adalah warga negara yang akan memberikan suaranya dalam pemilu untuk pertama kalinya. Mereka biasanya berusia antara 17-21 tahun.
Hampir sebagian besar kelompok pemilih ini tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang informasi politik-yang mencakup kandidat, partai politik, maupun hal-hal teknis terkait penyelenggaraan pemilu secara keseluruhan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ini membuat mereka rentan akan terpaan informasi politik yang berlimpah dari berbagai sumber. Apalagi pemilih pemula termasuk dalam kelompok digital natives-terbiasa dengan penggunaan teknologi dan berinteraksi secara virtual. Mereka juga sangat terbuka untuk mempelajari hal-hal baru.
Menjelang Pemilu 2024 fase ini, salah satu tantangan besar yang akan mereka hadapi sebagai pemilih adalah infobesity yang membuat mereka menampung terlalu banyak informasi (information overload) dalam konteks politik. Ini kemungkinan besar akan membuat mereka kewalahan dalam menyaring informasi.
Masalah akan muncul jika infobesity "terkontaminasi" dengan berita-berita palsu-hal yang tampaknya akan sulit dihindari selama tahun politik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mengenal infobesity
Istilah infobesity mungkin masih cukup asing bagi masyarakat awam. Istilah ini berkembang dengan menjamurnya kajian ilmu informasi.
Infobesity atau information obesity (obesitas informasi) adalah kondisi ketika seseorang dihadapkan pada banyaknya pilihan informasi yang berdampak pada proses pengambilan keputusannya.
Istilah lain yang memiliki konteks serupa adalah information explosion (ledakan informasi), yakni situasi ketika berbagai macam informasi yang ditemukan baik dalam bentuk teks, audio, audio visual dan variasi lainnya membuat masyarakat menjadi kewalahan.
Masyarakat Indonesia berpotensi lebih rentan terpapar infobesity karena memiliki budaya kolektivitas, yakni dorongan untuk saling berbagi informasi melalui platform yang dimilikinya. Terlebih lagi, penelitian menunjukkan bahwa generasi muda cenderung membagikan informasi tanpa terlebih dahulu mengetahui kebenaran ataupun mencari kebenaran informasi yang mereka dapat tersebut.
Tingginya jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia dan beragamnya platform digital turut berkontribusi pada tingginya jumlah informasi yang diproduksi dan dibagikan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!