Pilpres Ekuador Dibayangi Aksi Kekerasan dan Pembunuhan
📅 Jumat, 18 Agu 2023, 14:01 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: USNews/Reuters
QUITO - Ekuador, negara kecil di Amerika Selatan yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi tempat bermain bagi mafia narkoba asing yang berusaha mengekspor kokain dari pantainya, memicu perang brutal antara geng lokal.
Tingkat pembunuhan melonjak melebihi Meksiko atau Kolombia. Pembunuhan politisi menjelang pemilihan presiden menekankan tantangan yang dihadapi para pemimpin Ekuador.
Profil paling tinggi adalah kandidat presiden dan pejuang antikorupsi, Fernando Villavicencio. Ia ditembak mati di siang bolong ketika meninggalkan rapat umum beberapa hari sebelum pemungutan suara.
"Ini benar-benar pemilu yang tidak biasa, dalam situasi yang mengerikan yang dialami Ekuador ... karena kekerasan yang ada, tetapi memanifestasikan dengan cara yang lebih akut dan mengerikan" dengan pembunuhan Villavicencio," kata ilmuwan politik Anamaria Correa Crespo kepada AFP.
Tentara dikerahkan di seluruh negeri untuk mengamankan pemungutan suara yang akan digelar Minggu (20/8) mulai pukul 7.00 waktu setempat dan ditutup pada pukul 17.00.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hasil awal diperkirakan akan keluar pada malam harinya. Sepuluh hari kemudian, penghitungan akhir diumumkan.
Presiden Guillermo Lasso menyerukan pemilihan cepat setelah membubarkan Kongres yang didominasi oposisi pada Mei untuk menghindari sidang pemakzulan dua tahun setelah pemilihannya.
Ada delapan kandidat presiden, putaran kedua dijadwalkan pada 15 Oktober jika tidak ada yang menang langsung. Presiden baru akan mulai menjabat pada 26 Oktober, dan hanya akan menjabat selama satu setengah tahun.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mafia Transnasional
Luisa Gonzalez (45) memimpin dalam jajak pendapat sebelum peristiwa pembunuhan. Ia seorang pengacara dari partai sayap kiri mantan presiden Rafael Correa.
Correa dijatuhi hukuman delapan tahun penjara setelah penyelidikan oleh Villavicencio atas kasus korupsi, dan melarikan diri ke Belgia dan mengasingkan diri di sana selama enam tahun.
Analis mengatakan citra Gonzalez telah dinodai oleh tuduhan Correa berada di balik pembunuhan itu. Dia membantah.
Correa mengakui pembunuhan itu telah "menggeser peringkatnya dalam pemilu".
Villavicencio berada di posisi kedua sebelum di bunuh, digantikan pada menit terakhir oleh Christian Zurita, juga seorang wartawan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!