Hilirisasi Tidak Akan Berguna jika Tidak Ada Transfer Teknologi ke Lokal
📅 Sabtu, 12 Agu 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim RedaksiHal itu pulalah yang menyebabkan para ahli asal Indonesia yang selesai belajar di luar negeri banyak yang tidak pulang karena tidak ada tempat yang bisa menampung mereka berkarya dan bekerja dengan dukungan teknologi tinggi.
"Banyak orang Indonesia maju di luar negeri, tapi ilmunya tidak dipakai di sini, karena ilmu teknologi itu tidak akan bisa maju kalau tidak dipraktikkan. Silicon Valey di AS tumbuh karena praktik. Dari vacum tube hingga cip itu dari praktik. Bagaimana kita bisa mau maju kalau tidak ada yang membangun teknologi tinggi. Ini karena banyak orang yang berada di lingkaran kekuasaan berniat jahat.
Tidak Memberi Solusi
Kroni yang berkuasa, tambahnya, memang tidak bisa bekerja. Ibu Kota Jakarta yang udaranya terkotor di dunia, tetapi para pejabatnya bungkam dan tidak peduli. Padahal berapa banyak orang dipendekkan usianya karena udara Jakarta yang polutif, tidak ada yang memberi solusi, karena oligarki dan kroni yang malas bekerja.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kondisi lalu lintas yang macet saat ini hampir tidak ada solusi, padahal rata-rata orang menghabiskan waktu 4-6 jam sehari hanya untuk mencari makan. Macet, tidak ada yang mau mengurus.
Makanya jalan berbayar elektronik (Electronic Road Pricing/ERP) tidak bisa diterapkan karena lobi pelaku otomatif. Padahal uang dari ERP itu bisa digunakan membangun transportasi yang andal.
"Tidak ada pemikiran tersebut, karena lobi pemilik industri mobil yang tidak mau jumlah mobil dibatasi. Jadi jangan bicara hilirisasi, kita membenahi yang ada saja tidak bisa. Embel-embel mobil hijau, padahal gunakan bensin. Tujuannya hanya ingin bebas pajak," kata Aditya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kerja para kroni dan oligarki membuat RI terbelakang karena mereka mencari makan dengan membunuh seluruh bangsa. Ciri-cirinya tidak mau bekerja, tapi mau dapat hasil. Mereka bahkan menggunakan aparat untuk kepentingan pribadi sehingga tidak ada kepastian hukum. Kalau kepastian hukum sudah tidak ada, investor tidak ada yang mau datang.
Kondisi tersebut berbeda saat Tiongkok mulai membangun kereta cepat. Negara tersebut membeli teknologi Siemens dan Mitsubishi, lalu membuat reverse enginerring. Sekarang, mereka bersaing dengan keduanya dalam waktu 10 tahun. Bahkan kini, Tiongkok telah berhasil menciptakan kereta tercepat di dunia, Shanghai Maglev (magnetic levitation), memanfaatkan gaya magnet untuk mengangkat kereta sehingga mengambang, tidak menyentuh rel dan gaya gesek dapat dikurangi.
"Indonesia tidak belajar dan kita tidak punya supply chain. Semua ini mematikan yang terkait supply chain. Harus dibebaskan dari kronisme dan oligarki yang menutup semua supply chain dan upaya transfer teknologi," katanya.
"Unicorn" Milik Asing
Dalam kesempatan terpisah, Peneliti Pusat Riset Pengabdian Masyarakat (PRPM), Institut Shanti Bhuana, Bengkayang, Kalimantan Barat, Siprianus Jewarut, mengatakan salah satu yang membuat pemerintah terkecoh adalah kehadiran beberapa perusahaan platform perdagangan e-commerce.
Awalnya, kata Siprianus, pejabat bangga dengan unicorn dan tanpa sadar bahwa bukan seperti itu yang dicari. Ternyata setelah berjalan, 95 persen barang yang mereka jual adalah impor.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!