Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Banyak Negara Diperkirakan Mengalami Resesi

📅 Selasa, 01 Agu 2023, 00:06 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Banyak Negara Diperkirakan Mengalami Resesi Doc: ISTIMEWA
Ket. Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati

JAKARTA - Kondisi ekonomi global pada 2023 ini diperkirakan akan gelap gulita dengan pertumbuhan dunia hanya 2,1 persen atau turun drastis dari pertumbuhan tahun sebelumnya yang mencapai 6,3 persen. Hal itu yang menjadi perkiraan banyak negara akan mengalami resesi ekonomi.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, dalam acara penyerahan Insentif Fiskal Kategori Kinerja Pengendalian Inflasi di Daerah Periode I-2023 yang dipantau Antara secara virtual, di Jakarta, Senin (31/7), mengatakan situasi sekarang sudah tengah tahun kondisinya agak lebih baik dari yang diperkirakan semula.

Kendati demikian, pertumbuhan volume perdagangan dunia 2023 diperkirakan menjadi paling rendah dengan angka 2,0 persen apabila dibandingkan angka dua tahun terakhir, yakni 5,2 persen pada 2022 dan 10,7 persen pada 2021.

"Kalau dunia tidak saling berdagang, pasti ada bagian dunia yang tadinya membutuhkan barang atau jasa tidak mendapatkannya dan kemudian akan mendorong harga-harga menjadi naik. Inilah kenapa kemudian disrupsi yang terjadi baik dari sisi supply maupun dari sisi perdagangan serta dari sisi distribusi itu akan sangat menentukan inflasi," jelasnya.

Pada 2022 lalu, seluruh dunia mengalami kenaikan inflasi yang sangat tinggi. Dunia disebut mengalami inflasi 8,7 persen dari sebelumnya yang mendekati 0 persen. Bahkan, beberapa negara maju juga mengalami deflasi yang kemudian melonjak menjadi 7,3 persen.

Jika permintaan mengalami penurunan, kegiatan produksi turut mengalami penurunan. Berdasarkan indikator Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur per Juni 2023 tercatat 61,9 persen. Mayoritas negara mengalami PMI manufaktur yang kontraktif, seperti Amerika Serikat (AS), Eropa, Jerman, Prancis, Inggris, Korea Selatan, Malaysia, dan Vietnam.

Kondisi tersebut menggambarkan dampak pelemahan ekonomi global salah satunya adalah inflasi yang menggerus daya beli itu sangat besar.

"Hanya 14,3 persen negara-negara yang mengalami ekspansi dan akselerasi. Itu termasuk Indonesia, jadi Indonesia masuk bersama Turki dan Meksiko," katanya.

Waspadai Permintaan

Pada kesempatan terpisah, peneliti ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda, mengatakan dampak pelemahan ekonomi global tidak terlalu berdampak terhadap ekonomi Indonesia karena masih ditopang ekonomi domestik.

Namun demikian, pemerintah perlu mewaspadai dampak pelemahan permintaan global terhadap produk orientasi ekspor seperti tekstil. "Kurangnya permintaan bisa membuat angka pemutusan hubungan kerja (PHK) meningkat," katanya.

Pemerintah, kata Nailul, perlu menyiapkan sejumlah langkah penting untuk mengantisipasi dampak negatif perkembangan ekonomi global tersebut.

"Perlu melakukan penguatan ekonomi domestik dengan menjaga daya beli masyarakat dengan tingkat inflasi yang dijaga, jangan sampai terlampau tinggi," tegasnya.

Selain itu, perlu mencari pangsa pasar baru di luar negara tradisional. Pangsa pasar Timur Tengah dan Afrika berpotensi menjadi tujuan ekspor produk tekstil dan produk tekstil (TPT).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Daerah
Badan Geologi Laporkan Akti...
Daerah
Surabaya Siapkan Sensor Pem...
Ekonomi
BNI Private Dinobatkan seba...
Advertisement
Lebih Tinggi dari India dan Laos, AS Tetapkan Tarif Antidumping Panel Surya Indonesia hingga 173,7 Persen

Lebih Tinggi dari India dan Laos, AS Tetapkan Tarif Antidumping Panel Surya Indonesia hingga 173,7 Persen

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.