Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Publik Jangan Terkecoh Hasil Survei Capres-Cawapres

📅 Kamis, 27 Jul 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Makanya untuk melihat kecenderungan publik memilih siapa, jangan dilihat pada survei, tetapi lebih melihat garis partai.

"Publik belum waktunya memilih, mereka masih melihat siapa capres dan cawapres yang berbobot, bukan titipan, bukan karbitan, serta bukan disponsori elite.

Selain soal belum ada pilihan, publik juga disesatkan dengan adanya anggapan kalau kaum milenial yang porsinya paling besar akan memilih capres dan cawapres seumuran dia.

"Ini persepsi salah yang terus dibangun, padahal milenial itu ingin pemimpin yang matang, yang bisa menentukan masa depan mereka. Jadi kalau salah memilih wapres, ya seperti pilpres sebelumnya, akan gigit jari. Para pemilih milenial tahu kalau negara tidak bisa dipimpin oleh orang yang belum matang. Persepsi yang salah ini bisa membuat capres salah memilih cawapres seperti pilpres sebelumnya," katanya.

Lebih lanjut, Frederik mengatakan sosok Menko Polhukam, Mahfud MD, merupakan figur yang sangat cocok yang dibutuhkan bangsa ini ke depannya. Reputasi mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu sangat baik dalam mengemban dan menjalankan tugasnya.

Namun karena minimnya dukungan media, membuat elektabilitas dan popularitasnya belum terlalu signifikan.

"Itu karena masyarakat kita masih kurang rasional dalam membaca rekam jejak para tokoh," kata Frederik ketika dihubungi Koran Jakarta, Rabu (26/7).

Masyarakat, katanya, gampang diperdayai hoaks (berita bohong) yang membuat mereka lupa terhadap kredibilitas integritas seorang tokoh seperti Mahfud MD yang jauh mengungguli tokoh lain," katanya.

Selain dikelabui hoaks medsos, media mainstream juga memiliki peran besar untuk membingkai siapa saja, termasuk aktor politik, agar pada akhirnya tidak hanya dapat mempengaruhi pikiran dan emosi, tetapi juga preferensi politik masyarakat.

Pembingkaian atau framing yang menarik dimunculkan setiap saat di layar kaca dan aneka platform media yang dimiliki, sehingga lambat laun mempengaruhi munculnya basis massa terhadap aktor politik tertentu. Apalagi kalau media terjebak dalam arena politik praktis, pemberitaan akan tertuju hanya pada satu atau kelompok tertentu yang menjadi jagoan si pemilik media.

Masyarakat, jelasnya, terus terpapar dengan pembingkaian itu yang mengalami subliminal effect, karena dicekoki informasi yang sama secara berulang-ulang dan terus menerus maka akan terpengaruh oleh apa yang dibingkai media.

"Sejujurnya ini penyebarluasan hoaks melalui media, penyesatan fakta dengan mempengaruhi pikiran masyarakat. Sudahlah, rakyat tidak bodoh. Rakyat dikira bodoh, nanti lihat saja siapa yang lebih pintar," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Liga Arab Kukuhkan Nabil Fa...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.