Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Publik Jangan Terkecoh Hasil Survei Capres-Cawapres

📅 Kamis, 27 Jul 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Publik Jangan Terkecoh Hasil Survei Capres-Cawapres Doc: ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA
Ket. PILIH PEMIMPIN YANG RASIONAL I Menko Polhukam Mahfud MD usai memberikan keterangan kepada wartawan beberapa waktu lalu. Masyarakat Indonesia harus memilih pemimpin yang rasional dengan memilih pemimpin yang bermutu dan berbobot. Jangan memilih berdasar emosional.

» Rakyat tidak boleh dianggap bodoh karena mereka terus berusaha mencari informasi akurat dan objektif sebelum memutuskan pilihan.

» Penyebarluasan hoaks juga dilakukan melalui media mainstream, dengan menyesatkan fakta sehingga mempengaruhi pikiran masyarakat.

JAKARTA - Konstelasi politik di Tanah Air semakin menghangat meskipun pemilu masih delapan bulan ke depan. Tensi suhu politik yang terus naik itu diharapkan tidak membuat masyarakat atau publik mudah terkecoh dengan berbagai intrik-intrik yang menyesatkan untuk meraih kekuasaan.

Sebagai bangsa yang besar dengan sejarah panjang, Indonesia memiliki tanggung jawab untuk memilih pemimpin dengan bijak dan rasional, bukan dengan mengandalkan popularitas calon yang dibangun di media sosial (medsos) dan hasil lembaga survei.

Aktivis '98, Sulaiman Haikal, yang diminta pendapatnya dari Jakarta, Rabu (26/7), menekankan pentingnya publik, khususnya pemilih, untuk lebih dewasa dengan meninggalkan kebiasaan berpikir emosional dalam menentukan pilihan calon pemimpin negara.

"Rakyat harus meninggalkan kebiasaan berpikir emosional. Jangan memilih calon berdasarkan emosi, tetapi harus berlandaskan pada pertimbangan yang rasional dan berbobot," kata Sulaiman.

Dia menyoroti fenomena saat ini di mana calon-calon kuat dan berkualitas sering kali dikecilkan dan tidak mendapatkan dukungan yang seharusnya. Sebagai contoh, sosok Mahfud MD, yang menurutnya memiliki kualitas dan reputasi serta integritas yang lebih baik dibanding kompetitor lainnya, namun cenderung diabaikan oleh lembaga survei. Padahal jika dibandingkan dengan calon wakil presiden (cawapres) lainnya, ibarat langit dan bumi.

Hal itu menunjukkan adanya kecenderungan dalam mempengaruhi opini publik yang seharusnya berpijak pada kualitas dan kapabilitas calon pemimpin.

Ia pun menyangsikan kualitas beberapa lembaga survei sehingga banyak diobrolkan sehari-hari karena reputasinya sulit dipercaya sebagai lembaga survei yang benar-benar objektif.

Haikal pun menyerukan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh survei tanpa memperhatikan track record (rekam jejak) lembaga survei tersebut. Apalagi rakyat Indonesia sebenarnya memiliki pemahaman dan kemampuan untuk memilih pemimpin yang sesuai dengan kriteria yang bermutu dan berintegritas.

"Rakyat tidak boleh dianggap bodoh karena mereka terus berusaha mencari informasi yang akurat dan objektif untuk mengambil keputusan yang tepat dalam memilih pemimpin," katanya.

Dengan fokus pada pada kualitas dan rekam jejak calon pemimpin, rakyat akan menemukan pemimpin yang mampu mengemban amanah dengan baik dan memajukan negara ke arah yang lebih adil dan makmur.

Pemimpin Matang

Sementara itu, Dosen Ilmu Komunikasi sekaligus Pengamat Komunikasi Politik Universitas Bina Nusantara (BINUS) Malang, Frederik Gasa, mengatakan pemilih saat ini sejujurnya belum berpihak dan belum menentukan pilihan, sementara masih segaris dengan partai.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Daerah
Badan Geologi Laporkan Akti...
Daerah
Surabaya Siapkan Sensor Pem...
Advertisement
Lebih Tinggi dari India dan Laos, AS Tetapkan Tarif Antidumping Panel Surya Indonesia hingga 173,7 Persen

Lebih Tinggi dari India dan Laos, AS Tetapkan Tarif Antidumping Panel Surya Indonesia hingga 173,7 Persen

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.