Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pakar Sebut Indonesia Punya Riwayat Terkena Enterovirus 71

📅 Rabu, 19 Jul 2023, 12:21 WIB | Oleh: Tim Penulis
Pakar Sebut Indonesia Punya Riwayat Terkena Enterovirus 71 Doc: ANTARA/HO-YARSI
Ket. Pakar ilmu kesehatan sekaligus Direktur Pasca-Sarjana Universitas YARSI Prof Tjandra Yoga Aditama.

JAKARTA - Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, bahwa Indonesia sempat memiliki riwayat terkena penyakit yang disebabkan oleh Enterovirus tipe 71 atau yang dikenal dengan EV-71.


"Sebenarnya penyebabHand Foot Mouth Disease-HFMD adalah enterovirus secara umum, termasuk coxsackievirus A16, EV 71 dan echovirus. Pada kejadian sangat jarang, HFMD akibat EV 71 juga dapat menyebabkan meningitis dan bahkan ensefalitis," kata Prof Tjandra di Jakarta, Rabu (19/7).

Prof Tjandra menuturkan EV-71 yang terdeteksi di Indonesia telah menyebabkan penyakit tangan kaki mulut (Hand Foot Mouth Disease/HFMD).


Penyakit HFMD ditandai dengan demam; munculnya ruam pada kulit (rash) dan benjolan kecil (blister) di telapak kaki, tangan dan mukosa mulut, penderita cenderung tidak nafsu makan sampai malaise dan nyeri pada tenggorokan.


Biasanya, setelah satu atau dua hari setelah demam, timbul keluhan nyeri di mulut dimulai dari blister sampai kemudian dapat menjadi mukus. Lesi dapat terjadi pada lidah, gusi atau bagian dalam mulut lainnya.


Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara itu menjelaskan secara umum, HFMD bukan penyakit berat.

Penderitanya bisa sembuh dalam kurun waktu tujuh sampai 10 hari, meski pengobatan hanya bersifat suportif.


Sementara itu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) kantor regional Eropa melaporkan sedang terjadi peningkatan kasus Enterovirus 11 (Echovirus-11) di wilayah setempat. Sembilan kasus neonatal sepsis dengan kerusakan hati (hepatic impairment) dan kegagalan multi organ telah ditemukan di Prancis.


Tujuh dari sembilan kasus tadi dinyatakan meninggal dunia. WHO juga melaporkan bila kasus serupa terjadi di Kroasia satu kasus, Italia tujuh kasus, Spanyol dua kasus, Swedia lima kasus serta Inggris dua kasus.


Prof Tjandra mengatakan kondisi saat ini yang sedang menyebabkan peningkatan kasus di Eropa adalah infeksi dari Echovirus-11, sebuah jenis positive-strand RNA dari famili Picornaviridae.


Ia menjelaskan seperti juga enterovirus pada umumnya, infeksi akibat E-11 bisa beragam bentuknya, dari mulai yang ringan seperti kulit kemerahan dan demam, dan mungkin juga sampai yang berat dalam bentuk gangguan sistem saraf, termasuk meningitis, ensefalitis dan kelumpuhan (Acute flaccid paralysis/AFP).


"Echovirus-11 juga dilaporkan menimbulkan penyakit yang berat pada neonates dan bayi, dengan angka kesakitan dan kematian pula, seperti yang sekarang terjadi di Eropa ini dan perlu kita cermati. Bentuknya dapat berupa peradangan berat pada neonates (bayi baru lahir), termasuk hepatitis akut berat dengan koagulopati. E-11 juga dapat saja menular dari ibu ke anaknya," ucapnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Huntara di Langkahan roboh ...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Ekonomi
Nilai tukar rupiah terendah...

Operasi uji emisi kendaraan di Tangerang

37 menit yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
Megapolitan
Pemkot Jakut Vaksinasi Ribu...
Ekonomi
Industri sepatu rumahan kua...

Pelaksanaan program penghapusan bentor

42 menit yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Pelaksanaan program penghap...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.