Dosen Unsoed Sebut Banyumas sebagai Daerah Endemis Rayap
📅 Jumat, 14 Jul 2023, 15:14 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: antarafoto
PURWOKERTO - Dosen Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Dr Hery Pratiknyo mengatakan Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, merupakan daerah endemis rayap.
"Hal itu diketahui berdasarkan hasil penelitian yang saya lakukan di sekitaran Gunung Slamet dari sisi timur, selatan, dan barat, yang kemudian saya turunkan ke wilayah Banyumas," katanya di Purwokerto, Banyumas, Jumat (14/7).
Dari hasil penelitian di sekitaran Gunung Slamet tersebut, dia mendapatkan 11 spesies rayap dengan spesies yang paling dominan adalah Schedorhinotermes sp, yaitu rayap kayu.
Selanjutnya, ia a mencoba meneliti persebaran rayap itu dari wilayah yang berada di ketinggian hingga daerah rendah, khususnya Banyumas untuk mengetahui apakah ada perbedaan persebaran di masing-masing wilayah.
"Meskipun yang paling dominan Schedorhinotermes sp, waktu menurun sampai di bawah Baturraden, Banyumas, sudah berubah. Yang dominan sama dengan yang di utara Gunung Slamet, yakni Macrotermes gilvus, Microtermes insperatus, dan Odontotermes javanicus," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut dia, pihaknya pun melanjutkan penelitian untuk mengetahui pengaruh atau daya serang tiga spesies rayap itu terhadap rumah-rumah warga, dan ternyata ketiganya mempunyai sebaran yang berbeda.
Dalam hal ini, kata dia, Macrotermes gilvus paling dominan persebarannya di Banyumas yang diketahui dari hasil penelitian dengan sampel sebanyak 31 desa karena di seluruh lokasi ditemukan rayap itu.
"Macrotermes gilvus adalah rayap tanah yang menjadi laron. Ini merupakan salah satu spesies rayap yang paling banyak menyerang kayu-kayu di perumahan," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bahkan, kata dia, serangan Macrotermes gilvus tidak hanya terjadi pada rumah-rumah warga di perkampungan, juga di kompleks perumahan.
Oleh karena itu, lanjut dia, ketika akan mendirikan bangunan atau rumah haru ada perlakuan khusus terhadap tanah yang menjadi lokasi pembangunan guna mengantisipasi terjadinya serangan rayap.
Hery mengatakan berdasarkan kajian yang dilakukan sejumlah pihak, anggaran untuk memperbaiki rumah lebih besar dari biaya untuk membangun rumah baru.
"Tanah yang akan digunakan untuk membangun rumah sebaiknya dikeruk, dibersihkan sampai benar-benar bersih, jangan cuma diuruk. Apalagi selama ini pembangunan perumahan dilakukan dengan mengonversi lahan," katanya.
Ia mengatakan pembersihan itu dilakukan agar tidak ada sisa kayu atau akar yang berpotensi menjadi sarang rayap ketika rumah atau bangunan tersebut telah berdiri.
Menurut dia, sumber makanan bagi rayap tanah atau Macrotermes gilvus adalah selulosa dari sampah humus maupun kayu yang tidak kering atau kayu yang lembap.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!