Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Nelayan Kecil Terpinggirkan, Pengelolaan Laut Harus Diperbaiki Demi Ekonomi Biru

📅 Selasa, 04 Jul 2023, 09:58 WIB | Oleh: Tim Penulis

Namun, pengumpulan data ini pun masih tersandung masalah. Perikanan tangkap di Indonesia menggunakan alat yang beragam dan menyasar berbagai spesies. Akibatnya, prediksi dinamika populasi spesies sasaran menjadi sulit. Selain itu, pergerakan kapal juga sulit dipahami, dengan kesulitan melacak dan memantau perairan Indonesia yang luas.

Isu-isu ini menyoroti perlunya partisipasi dari bawah ke atas dalam menciptakan peraturan dan regulasi dalam mengelola laut Indonesia.

Tiga jalan ke depan

Ada tiga cara bagaimana kita dapat melibatkan dan memberi manfaat lebih banyak orang dalam pengelolaan laut.

Yang pertama adalah melibatkan para pemangku kepentingan, termasuk nelayan skala kecil, dalam pengambilan keputusan pengelolaan sumber daya laut dan perikanan.

Dinamika politik Indonesia memengaruhi pengambilan keputusan seputar pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan. Misalnya, pemerintah bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan investasi melalui "ekonomi biru", antara lain dengan menerapkan kebijakan perikanan berbasis kuota yang meminggirkan nelayan tradisional, nelayan artisan (ahli skala kecil atau skala rumah tangga), dan skala kecil.

Kedua, kita perlu meningkatkan analisis dan pengumpulan data demi manajemen yang efektif dan berkelanjutan.

Indonesia perlu mengatasi ketidakterhubungan antara data jumlah produksi dan ekspor untuk memantau kinerja ekonomi sektor ini dan kinerja sosial dan lingkungan. Pengumpulan data yang memadai untuk pemantauan stok dan upaya perikanan (seperti kapasitas kapal, jumlah jam atau hari yang dihabiskan untuk menangkap ikan, alat tangkap yang digunakan) untuk menjaga kinerja jangka panjang juga penting.

Terakhir, kita tak bisa melewatkan strategi gender yang inklusif dan adil demi mendukung dan memungkinkan pemulihan dan ketahanan komunitas nelayan secara jangka panjang.

Partisipasi perempuan nelayan kerap tak tampak dalam pembuatan kebijakan. Padahal, perempuan mewakili 42% tenaga kerja sektor perikanan dan 74% budi daya perikanan. Perempuan adalah aktor-aktor penting di sektor ini dan di rumah tangga nelayan individu.

Penempatan manusia dan ekosistem sebagai pusat pengambilan keputusan sangat penting untuk menyeimbangkan kebutuhan manusia dan pemanfaatan laut, serta menjaga kesehatan laut dan produktivitas jangka panjang.The Conversation

Lucentezza Napitupulu, Adjunct associate, Universitas Indonesia dan Smita Tanaya, Research Assistant for Food System, World Resources Institute

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Pemulihan sawah pascabencana di Aceh

48 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pemulihan sawah pascabencan...
Nasional
Unjuk rasa mahasiswa dan ma...
Daerah
Peluncuran bus listrik proy...

Pembukaan Festival Budaya Kerinci 2026

58 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pembukaan Festival Budaya K...
Megapolitan
Aksi desak evaluasi perdaga...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.