Petambang Garam Sahara Berjuang Pertahankan Praktik Perdagangan Kuno
📅 Sabtu, 17 Jun 2023, 02:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/Souleymane Ag Anara
Di tepi sebuah oasis yang hampir tertutup bukit pasir dan tempat kafilah langka masih melintas, terdapat pemandangan gurun yang berlubang. Di situlah terdapat pertambangan garam Kalala, dekat Bilma di Niger timur laut, yang dahulu kala pernah menjadi perhentian penting bagi para pedagang dengan barisan unta mereka yang sarat membawa barang dagangan.
Pertambangan garam tradisional yang dilakukan dari generasi ke generasi ini adalah bisnis yang berkembang pesat, melibatkan komoditas yang sangat berharga sehingga dibeli dan dijual di seluruh Sahara dan sekitarnya.
Namun saat ini, di wilayah gurun terpencil yang diganggu oleh geng bersenjata dan penyelundup, para petambang garam pun berjuang untuk bertahan hidup.
Selama berabad-abad, ratusan lubang telah digali dengan tangan dan kemudian diisi dengan air untuk menghilangkan garam dari batuan setempat. Berdiri di lubang berwarna hitam, tampak Ibrahim Tagaji dan rekannya bergulat dengan linggis untuk memanen hasil tambang mereka melalui sebuah metode ekstraksi yang pada dasarnya tetap tidak berubah dari waktu ke waktu.
Saat itu adalah siang hari yang sangat panas dengan suhu mencapai 45 derajat Celsius. Dengan bertelanjang kaki di air garam yang mulai mengkristal, kedua pria itu menggali bongkahan kristal asin dan menumbuknya menjadi pasir, yang kemudian diambil dengan gayung. Mereka kemudian menuangkan garam ke dalam cetakan yang terbuat dari pohon kurma, membentuk lempengan yang kemudian siap untuk dijual.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ini adalah kerja keras yang sangat berat, namun kerja keras mereka dihargai dengan pendapatan yang berfluktuasi berdasarkan tawaran pembeli mana pun yang kebetulan lewat.
"Ketika seseorang dengan uang datang, Anda bisa mendapat banyak uang," kata Tagaji sambil menyekop garam sepenuh ia mampu. "Kalau tidak, semua itu banyak pekerjaan, dan uangnya sedikit," imbuh dia.
Tetapi perekonomian lokal hanya menawarkan sedikit alternatif dan kira-kira setengah dari populasi Bilma masih bekerja di dalam lubang tambang garam, menurut pejabat setempat.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Begitu putus sekolah, Anda harus bekerja di sini," kata Omar Kosso, seorang veteran industri tersebut. "Setiap keluarga memiliki tambang garamnya sendiri, dan Anda bisa datang bahkan dengan keluarga Anda untuk bekerja disini," imbuh dia.
Dunia Telah Berubah
Kafilah unta masih singgah di Bilma, di mana sebagian besar penduduknya tinggal di rumah tradisional dengan dinding garam dan tanah liat yang diambil dari tambang terdekat.
Seseorang yang disebut mai adalah otoritas tradisional di sini, yang menentukan siapa yang mendapatkan area mana untuk digali dan menetapkan harga jual.
Kiari Abari Chegou berasal dari barisan panjang kepala suku, yang masing-masing telah mewariskan jabatan dan atributnya kepada penggantinya: pedang ritual dan genderang perang dari kulit perkamen.
Ada juga bendera putih yang ditutupi surat-surat, sama dengan yang dipajang oleh kakeknya dalam foto hitam-putih tua dari awal era '20-an yang ditempelkan di dinding rumah keluarga.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!