Melegakan Gerak Cepat KBRI yang Menenangkan Kakak Beradik Asal Batam di Sudan
📅 Senin, 08 Mei 2023, 05:52 WIB | Oleh: Tim PenulisPemerintah dinilai Firkri sangat memperhatikan nasib mereka yang berada di Sudan dan pihak KBRI juga selalu menanyakan kondisi WNI.
Abdurrahman Tsani, 23 tahun, merupakan abang kandungFikri. Keduanya sama-sama kuliah di kota tersebut namun beda universitas.
Menurut penuturannya, mereka tidak sempat bertemu selama kejadian karena berbeda tempat tinggal dan tempat pengungsian. Mereka bertemu kembali setelah tiba di Jakarta.
Senada dengan Fikri, Rahman, sapaan AbdurrahmanTsani, mengatakan kondisinya juga sangat menegangkansaat perang terjadi. Bagaimana tidak, di seberang kompleks asrama yang menjadi tempat tinggal Rahman, dijadikan markas oleh pasukan pemberontak.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Pas di seberang asrama, itu markas pemberontak, jadi suara tembakan itu tidak henti-hentinya terdengar," kata mahasiswa International University of Africa (IUA) itu.
Karena posisinya yang terlalu dekat, dia dan 70 mahasiswa Indonesia yang tinggal di asrama sempat mengalami kesusahan mendapatkan makanan dan minuman. Namun, di asrama itu juga ada warga lokal yang suka membantu mereka untuk mendapatkan makanan.
"Alhamdulillahwarga lokal di sana sangat baik sama kami, kami kekurangan bahan pangan, mereka tidak sungkan-sungkan memberi kami makanan dan minuman," ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Setelah beberapa hari, akhirnya mereka dievakuasi menggunakanbus milik kampus ke kantor Persatuan Pelajar Indonesia (PPI). Namun, itu lagi-lagi tidak mulus. Mobil yang awalnya akan menjemput mereka ada empat kendaraan, berubah menjadi dua mobil karena tidak diizinkan oleh kelompok pemberontak.
Mereka (pemberontak) memang tidak pernah mengganggu warga Indonesia, tapi mereka hanya mengizinkan dua mobil yangmenjemput.
"Jadi kami terpaksalah bersempit-sempitdi dalam bus," kata dia.
Evakuasi KBRI
Fikri dan seluruh WNI yang berada di pengungsian sangat lega setelah KBRI di Sudan memberitahukan akan segera mengevakuasi merekake bandara terdekat yang aman dari perang.
"Kami sangat senang waktu itukarena pemerintah mau melakukan evakuasi yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh kami," katanya.
Namun, dalam perjalanannya lagi-lagi mendapat masalah dari pihak pemberontak. Bus yang awalnya akan datang 16 unit, yang diizinkan untuk mengangkut WNI hanya tujuh unitkarena dilarang oleh pihak pemberontak.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!