Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Makanan Fermentasi seperti Kimchi dan Yogurt Ternyata Bisa Berbahaya, Kenapa Begitu?

📅 Jumat, 28 Apr 2023, 12:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

Histamin banyak ditemukan pada makanan yang difermentasi. Bagi sebagian besar orang, enzim spesifik tubuh kita secara alami akan mencernanya. Namun, beberapa orang tidak memproduksi cukup enzim ini. Ini berarti histamin tidak akan dicerna dan malah akan diserap ke dalam aliran darah.

Hal ini dapat menyebabkan berbagai gejala intoleransi histamin. Yang paling umum adalah gatal-gatal, sakit kepala atau migrain, pilek (rinitis), kemerahan pada mata, kelelahan, gatal-gatal, dan gejala pencernaan termasuk diare, mual, dan muntah.

Namun, intoleransi histamin juga dapat menyebabkan gejala yang lebih parah, termasuk asma, tekanan darah rendah, denyut jantung tidak teratur, peredaran darah tidak lancar, perubahan psikologis yang tiba-tiba (seperti kecemasan, agresivitas, pusing, dan kurang konsentrasi) dan gangguan tidur.

4. Penyakit yang ditularkan melalui makanan

Meskipun sebagian besar makanan fermentasi aman, masih ada kemungkinan makanan tersebut terkontaminasi bakteri yang dapat menyebabkan penyakit. Pada tahun 2012, terjadi wabah 89 kasus Salmonella di Amerika Serikat yang disebabkan oleh tempe yang tidak dipasteurisasi.

Dua wabah besar Escherichia coli, dilaporkan terjadi di sekolah-sekolah Korea Selatan pada tahun 2013 dan 2014. Mereka dikaitkan dengan makan kimchi sayuran fermentasi yang terkontaminasi.

Dalam banyak kasus, probiotik yang ditemukan dalam produk susu fermentasi seperti keju, yogurt, dan susu mentega dapat secara efektif mencegah pertumbuhan bakteri tertentu, seperti Staphylococcus aureus dan Staphylococcal enterotoksin yang dapat menyebabkan keracunan makanan. Namun dalam beberapa kasus, probiotik gagal dan bakteri justru dapat mengeluarkan racun, sehingga produk tersebut mungkin berbahaya.

5. Infeksi dari probiotik

Probiotik pada umumnya aman bagi sebagian besar orang. Namun, dalam kasus yang jarang terjadi, mereka dapat menyebabkan infeksi - terutama pada orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang buruk.

Sebuah penelitian di London, Inggris, melaporkan kasus pertama pasien diabetes berusia 65 tahun yang mengalami abses hati yang disebabkan oleh konsumsi probiotik. Pasien yang rentan, seperti mereka yang memiliki kekebalan tubuh yang lemah, harus disarankan untuk tidak mengonsumsi terlalu banyak probiotik.

Pengobatan dengan probiotik dapat menyebabkan infeksi serius, seperti pneumonia pada orang yang rentan dan infeksi sistemik, termasuk sepsis dan endokarditis.

6. Resistensi antibiotik

Bakteri probiotik dapat membawa gen yang memberikan resistensi terhadap antibiotik. Gen-gen resistensi antibiotik ini dapat berpindah ke bakteri lain yang ditemukan dalam rantai makanan dan saluran pencernaan melalui transfer gen horizontal. Gen resistensi antibiotik yang paling umum dibawa oleh makanan fermentasi adalah terhadap eritromisin dan tetrasiklin, yang digunakan untuk mengobati infeksi saluran pernapasan dan beberapa penyakit menular seksual.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
BI: Cadangan Devisa Indones...
Ekonomi
Lewat Kreativitas, Festival...
Nasional
Wamenekraf Dorong Inovasi J...
Daerah
KAI: Penumpang KA Ciremai S...
Daerah
KAI: Pelanggan KA Makassar-...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
BMKG Catat Tsunami Tertinggi Terjadi di Talengan-Sangihe, Sulut

BMKG Catat Tsunami Tertinggi Terjadi di Talengan-Sangihe, Sulut

08 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.