Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Mayat Berserakan di Sebuah Biara, Diduga Korban Pembantaian Junta Myanmar

📅 Jumat, 17 Mar 2023, 16:15 WIB | Oleh:
Mayat Berserakan di Sebuah Biara, Diduga Korban Pembantaian Junta Myanmar Doc: ST/Karenni Nationalities Defence Forces
Ket. Senjata otomatis kemungkinan besar digunakan dalam jarak dekat untuk membunuh 22 orang, termasuk tiga biksu berjubah kunyit.

YANGON - Laporan post-mortem seorang dokter menyebutkan, setidaknya 22 orang, termasuk tiga biksu Buddha, ditembak mati dari jarak dekat di Myanmar pertengahan pekan lalu.

Disiarkan The Straits Times, Jumat (17/3), seorang juru bicara junta Myanmar yang melakukan kudeta pemerintahan terpilih dua tahun lalu mengatakan, pasukannya terlibat dalam bentrokan dengan pejuang pemberontak di wilayah Pinlaung, negara bagian Shan selatan, namun ada warga sipil yang terluka.

Juru bicara junta Zaw Min Tun mengatakan dalam sebuah pernyataan, Pasukan Pertahanan Kebangsaan Karenni (KNDF) dan kelompok pemberontak lainnya memasuki Desa Nan Neint setelah pasukan pemerintah tiba untuk memberikan keamanan bersama milisi rakyat setempat.

"Ketika kelompok teroris melepaskan tembakan keras… beberapa penduduk desa tewas dan terluka," katanya.

Zaw Min Tun tidak menanggapi panggilan telepon dari Reuters untuk dimintai komentarnya.

Reuters tidak dapat memverifikasi klaim tersebut secara independen.

Seorang juru bicara KNDF mengatakan tentaranya memasuki Nan Neint pada 12 Maret dan menemukan mayat berserakan di sebuah biara Buddha.

Video dan foto yang dibagikan KNDF dan kelompok lain, Karenni Revolution Union (KRU), memperlihatkan luka tembak di badan dan kepala mayat serta lubang peluru di dinding biara. Reuters tidak dapat secara independen memverifikasi keaslian materi tersebut.

Sebuah laporan post-mortem dari Dr Ye Zaw, bagian dari Pemerintah Persatuan Nasional, sebuah administrasi sipil di pengasingan yang dibentuk setalah kudeta, mengatakan, kemungkinan besar senjata otomatis digunakan dari jarak dekat untuk membunuh 22 orang, termasuk tiga biksu berjubah.

"Karena tidak ada seragam militer, peralatan dan amunisi yang ditemukan di sisa jenazah, terbukti bahwa mereka adalah warga sipil," kata laporan tersebut, yang salinannya dilihat Reuters.

"Karena semua mayat ditemukan di dalam kompleks biara Nan Nein, terbukti bahwa ini adalah pembantaian."

Pertempuran pecah selama dua minggu di daerah itu, sekitar 100 bangunan dibakar di dalam dan sekitar lokasi pembantaian di Nan Neint, menurut laporan media lokal, pasukan perlawanan, dan gambar satelit yang diverifikasi oleh Myanmar Witness, organisasi yang mendokumentasikan pelanggaran HAM.

Negara Asia Tenggara itu mengalami krisis sejak militer merebut kekuasaan pada Februari 2021 dengan menggulingkan pemerintahan Aung San Suu Kyi. Mengakhiri satu dekade langkah menuju demokrasi.

Gerakan perlawanan, beberapa bersenjata, muncul di seluruh negeri, yang diberi label "teroris" dan dilawan dengan kekuatan mematikan. Beberapa pasukan militer etnis juga memihak junta.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Taman Safari Prigen Perkena...
Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
SBY: Kepercayaan Publik Jad...
Megapolitan
DKI Perluas Pelatihan Kerja...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.