BI Jangan Anak Emaskan Perbankan, tetapi Korbankan Ekonomi Nasional
📅 Senin, 13 Mar 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim RedaksiMenurut Aditya, kasus tersebut seharusnya dicermati BI dengan baik dan penuh perhitungan. Jangan sampai ada shock dari eksternal yang harus diantisipasi dengan cepat, tetapi malah menimbulkan kesan panik, apalagi kurs rupiah saat ini sudah menembus level 15.500 per dollar AS.
"SVB bukan bank biasa, banyak dana start up (perusahaan rintisan) tersangkut di situ. Uangnya tidak bisa dipakai untuk pengembangan. Kalau bank sebesar itu saja colapse, apalagi bank-bank di Indonesia," katanya.

Masalah Inflasi
Sebaiknya Anda baca juga:
Hal yang perlu dicatat, sejelek-jeleknya kondisi AS karena harga saham jatuh akibat kenaikan suku bunga the Fed, fundamental ekonominya kuat sekali. Pada bulan lalu, pertambahan lapangan kerja mencapai 500 ribu, masalah mereka hanya di inflasi yang berada di level 6 persen dan tidak bisa diterima the Fed.
"Kalau dibandingkan dengan aset bank di Indonesia tidak lebih baik. Apalagi banyak di properti dan kredit konsumsi. Jadi, kondisi kualitas aset bank tidak bisa diremehkan," katanya.
Selain itu, kalau di AS inflasi 6,5 persen, apa mungkin di Indonesia cuma 3 persen. Mungkin di desa, tapi itu pun karena yang dikonsumsi hanya kebutuhan pokok. "Tapi BI belum menaikkan bunga acuan, padahal dollar AS sudah tembus level 15.500 per dollar AS, ini membahayakan," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Negara ekonomi terbesar dunia seperti AS, kata Aditya, sangat khawatir dengan inflasi, sehingga suku bunga acuannya Fed Fund Rate sudah mendekat 6 persen. Otoritas moneternya pun pekan lalu mengumumkan akan terus menaikkan suku bunga untuk tekan inflasi sampai sesuai target mereka di kisaran 2 persen.
"Kalau FFR saja 6 persen, masuk akal nggak suku bunga deposito kita 6 persen," kata Aditya.
Dia pun mengimbau BI agar melakukan langkah preventif, bukan reaktif dan panik. Kalau sudah terimbas ke rupiah, kemudian terburu-buru menaikkan suku bunga acuan, sehingga tidak efektif.
"Harus preventif, jangan seperti 1998 sampai 21 persen setelah reaktif. Suku bunga wajar BI itu spread-nya minimal 3 persen di atas the Fed, karena rupiah lemah," katanya.
Kalau sampai rupiah melemah ke level 16 ribu per dollar AS, daya beli akan semakin turun dan memicu inflasi karena bahan pokok dan barang modal terkait dengan nilai dollar AS, mulai dari bahan bakar minyak, batu bara dan gas, terutama yang terkait dengan pangan yang diimpor seperti beras.
Jangan Ikut-ikutan
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!