Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

BI Jangan Anak Emaskan Perbankan, tetapi Korbankan Ekonomi Nasional

📅 Senin, 13 Mar 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Selain meminta BI lebih preventif, Aditya juga meminta agar Otoritas Jasa Keuangan lebih memantau perusahaan jasa keuangan rintisan atau financial technology (fintech).

"Indonesia mau ikut-ikutan, padahal tidak punya kekuatan untuk bakar duit di start up. Jangan ikut-ikutan AS. Lebih baik membangun fondasi industri dasar, Usaha Kecil dan Menengah (UKM), sektor pertanian dan juga kelautan. Jangan latah di start up. RI tidak punya daya menopang sektor itu. Validasinya bubble. Misalnya Telkom, apakah tidak memikirkan akibatnya saat membeli saham perusahaan marketplace, sektor yang tidak dikuasainya," kata Aditya.

Dihubungi terpisah, pakar ekonomi dari Universitas Airlangga, Surabaya, Wasiaturrahma, mengatakan kejatuhan SVB mengingatkan pada kejadian tahun 2007 ketika Lehman Brothers runtuh. Itu adalah badai yang terjadi 100 tahun. Bernanke, Paulson, Geithner telah merekayasa serangkaian intervensi darurat untuk berbagai keuangan raksasa, yang berpuncak pada Program Bantuan Aset Bermasalah (TARP) pada 2008, intervensi senilai 700 miliar dollar AS untuk seluruh sistem keuangan.

Sistem keuangan yang lumpuh, jelas Rahma, akan membuat resesi semakin parah, sementara resesi yang semakin dalam membuat sistem keuangan semakin buruk. Rahma pun berharap apa yang terjadi di AS jangan sampai menjalar ke Indonesia.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti, mengatakan setelah Gubernur Federal Reserve, Jerome Powell, memberi sinyal melanjutkan kenaikan tingkat suku FFR maka tentu akan berdampak pada perekonomian Indonesia, karena kenaikan bunga the Fed biasanya diikuti negara-negara lain.

Pada 2022 lalu, the Fed sudah naik 450 basis poin atau 4,5 persen, akibat inflasi global, sehingga ekonomi dunia akan melambat. Jika BI tidak mengikuti kenaikan suku bunga the Fed, rupiah akan terus tergerus nilainya terhadap dollar AS.

"Rupiah semakin terdepresiasi karena ada capital flight (aliran modal keluar) mengikuti negara yang memberikan tingkat suku bunga lebih tinggi. Permintaan dollar AS pun akan meningkat sehingga rupiah pun akan makin tertekan," papar Ester.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Gebrakan PM Inggris Andy Bu...
Gerakan Pasar Ikan Murah Akan Digelar Pemprov Kaltim Berkala, Upaya Tekan "Stunting" di Berau

Gerakan Pasar Ikan Murah Akan Digelar Pemprov Kaltim Berkala, Upaya Tekan "Stunting" di Berau

23 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.