Krisis Iklim Tingkatkan Bencana Pengancam Hewan Ikonis Australia
📅 Senin, 30 Jan 2023, 21:54 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: NHK
SYDNEY - Seekor koala bernama Steve kehilangan induknya dan mengalami luka bakar yang parah dalam kebakaran alam liar Musim Panas Hitam yang menyapu Australia pada 2019 dan 2020. Steve merupakan salah satu dari 28 koala yang diselamatkan dari Pulau Kanguru yang terletak di lepas pantai Australia selatan, setelah kobaran api menghanguskan hampir separuh lahan di sana.
Musim Panas Hitam merupakan salah satu musim kebakaran alam liar paling menghancurkan yang tercatat dalam sejarah Australia. Kebakaran itu menghancurkan ribuan rumah. Menurut sebuah perkiraan, kebakaran itu menewaskan atau memusnahkan habitat miliaran hewan. Asapnya menyelubungi New Zealand dan akhirnya berembus jauh hingga ke Amerika selatan.
Kebakaran tersebut terutama berdampak parah bagi Pulau Kanguru, sebuah area yang terkenal akan keanekaragaman hayatinya. Hingga 80 persen dari 50.000 koala yang diperkirakan ada di sana telah mati. Spesies khas lainnya, seperti dunnart dan kakaktua hitam mengilap, juga mengalami kehancuran besar.
"Dalam sejarah 25 tahun kami di sini, kami telah mengalami kebakaran kecil di distrik ini lebih banyak daripada yang bisa saya ingat," tutur Jim Geddes, pengelola wisata mengamati koala di Cagar Alam Liar Teluk Hanson Pulau Kanguru pada awal Januari lalu. "Namun, kebakaran yang paling belakangan ini jauh lebih besar daripada yang pernah saya lihat sebelumnya," imbuh dia.
Kebakaran tersebut disusul oleh periode panjang hujan lebat yang menyebabkan regenerasi pesat vegetasi di seluruh pulau itu. Setelah tiga tahun, dedaunan hijau lebat telah menelan batang pohon yang hangus serta bukti lain adanya kebakaran itu. Populasi koala juga mulai pulih.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, hujan sama yang menghidupkan kembali lahan di penjuru Australia kini menimbulkan satu ancaman terhadap wilayah lain di negara itu.
Bencana Banjir
Cagar Alam Wombat Sleepy Burrow berlokasi di perbukitan yang dijajari parit-parit sebelah utara ibu kota, Canberra. Saat hujan turun dengan deras, bahkan lahan curam ini berubah menjadi zona banjir berbahaya karena curahan air mengalir deras melewati area ini. Manajer cagar alam itu, Donna Stepan, mengatakan hujan yang kerap turun pada tahun ini telah menimbulkan ancaman konstan terhadap hewan-hewan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Biasanya sekali setahun jalur perlintasan itu cukup buruk hingga tidak bisa dilewati," tutur Stepan. "Namun, tahun ini, sudah 14 kali," imbuh dia.
Wombat, kerabat dekat koala, tinggal di lubang-lubang galian bawah tanah yang menyediakan perlindungan dari kebakaran, tetapi berubah menjadi perangkap maut selama banjir.
Stepan mengatakan 10 wombat liar dulunya muncul pada malam hari untuk makan. Namun, ia sekarang hanya melihat tiga. Stepan merasa wombat-wombat lainnya mungkin telah tenggelam.
perempuan ini mencoba membuat cagar alam itu aman dari banjir, tetapi mengatakan upayanya kerap terasa sia-sia.
"Kita mendengar, oh, akan terjadi lagi pekan depan karena hujan. Lalu kemudian itu terjadi lagi. Setelah itu ada lagi yang mengatakan akan terjadi lagi pekan depan," tutur dia dengan tercekat.
Saat banjir mereda, solusi jangka panjang atas ancaman yang dihadapi Australia itu masih perlu segera ditemukan. Namun, hal ini hanya bisa terwujud dengan tekanan masyarakat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!