Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kepemimpinan Para Dewa Tak Cocok untuk Mahasiswa, Atmosfer Kampus Mesti Egaliter

📅 Sabtu, 21 Jan 2023, 06:55 WIB | Oleh:

Ya, sebuah kampus saya kira memerlukan atmosfer yang egaliter, lebih banyak informal, sehingga semua yang ada di kampus jadi satu mesin penggerak yang luar biasa. Ubinus (Universitas Bina Nusantara) misalnya, saya lihat juga sama, tidak ada sekat-sekat formalitas di sana.

Di sini, saya mulai dari segi berpakaian, pakai pakaian lapangan, sepatu kets, instead of pantofel, dosen ikut semua dan akhirnya gaya itu sama rata. Itulah mengapa desain pengembangan UMY, kemudian, mudah dipahami oleh civitas akademikanya.

Bisa memberi contoh dampak langsung dari kepemimpinan dengan gaya informal itu bagi kehidupan kampus?

Saya akan kasih contoh di kehidupan mahasiswa. Marching band UMY juara Asia 2018, karate 2 kali juara umum Pelatnas, Paduan Suara juara di Manila, taekwondo ranking 2 nasional. Masih banyak lagi prestasi non-akademik mahasiswa. Dan yang terakhir orkestra yang baru kami bangun 2019, Sun Shine Philaharmonic Orchestra, langsung menarik Tantri Kotak untuk bergabung dalam pertunjukan pada Muktamar Muhammadiyah di Solo, November lalu.

Pengakuan dari Tantri Kotak adalah pengakuan bahwa kualifikasi simfoni kita bagus. Dan ini mahal loh, enam miliar rupiah semua alat musiknya. Tapi kita berani keluarkan untuk mahasiswa.

Dan semua yang saya sebutkan tadi hanya mungkin dari gairah mahasiswa yang dilahirkan oleh kepemimpinan yang egaliter. Karena suasana begitu egaliter, pemikiran-pemikiran positif tidak lagi tersendat. Orang tidak lagi takut menyampaikan ide dan konten-konten perubahan.

Mundur ke belakang, bagaimana Anda memahami bahwa problem fundamental dari lambatnya perubahan UMY adalah kepemimpinan yang kaku di era sebelumnya?

Saya aktif di Muhammadiyah, jadi itu selalu terjadi dan berulang. Sejak zaman KH Ahmad Dahlan dan Kyai Badawi, selalu ada gap antara tua dan muda. Sejarah hanya berulang.

(Untuk diketahui, Gunawan Budiyanto adalah cucu dari Ki Bagus Hadikusumo, tokoh Muhammadiyah di masa Proklamasi 1945, perumus Sila 1 Pancasila dan UUD 1945, yang mendapat gelar Pahlawan 2015 lalu).

Soal bagaimana menggerakkan dosen dan para pengurus kampus, sampai satpam dan tukang parkir, saya akan memberi contoh bagaimana KH Ahmad Dahlan mengajari anak miskin mengaji. Bukan diberi ayat-ayat, tapi anak miskin itu dia mandikan, diberi makan, diberi pakaian bersih. Baru kemudian diajak salat dan ngaji. Kalau perut kosong dijejali ayat-ayat, dipaksa, tidak mungkin masuk.

Begitu pula soal memimpin kampus. Pemimpin banyak menargetkan sesuatu, tapi lupa menyejahterakan anak buahnya. Ini jadi suatu hubungan yang saya menyebutnya kronis. Komunikasi antara tua dan muda tidak terjadi.

Soal target-target di masa dewa-dewa (senior pengelola UMY) hanya berbasis pada perasaan saja, sekarang semuanya ada parameter atau data yang jelas dan wujudnya skor, angka, berbasis teknologi informasi.

Bukan berbasis perasaan tapi data, bisa dielaborasi bagaimana itu?

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Berpotensi Melemah Lanjutan...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.