Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kantin Sekolah Diimbau untuk Ditutup Demi Cegah Penularan Hepatitis Akut

📅 Kamis, 12 Mei 2022, 14:22 WIB | Oleh:
Kantin Sekolah Diimbau untuk Ditutup Demi Cegah Penularan Hepatitis Akut Doc: Biro Setpres
Ket. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin

JAKARTA - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta kantin sekolah ditutup untuk mencegah penularan virus hepatitis akut yang penularannya diantaranya melalui saluran pernafasan dan saluran pencernaan.

Khawatir akan munculnya penularan virus hepatitis akut secara masif yang dapat terjadi pada anak-anak, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta pemerintah untuk menutup kantin sekolah ketika proses pembelajaran tatap muka dimulai pada Kamis (12/5).

Penutupan kantin, menurut KPAI, akan dapat menghindari penularan hepatitis akut yang dapat menyebar melalui saluran pernafasan dan saluran pencernaan.

Komisioner KPAI Retno Listyarti menyarankan agar para orang tua memberikan bekal bagi anak-anak yang bersekolah. Ia juga menganjurkan orangtua untuk mengingatkan anak-anak mereka untuk tidak jajan sembarangan.

"Dia (anak-anak) berada di kantin buka masker, makan dan ngobrol, nah itu kan potensi penularannya kan tinggi kalau sekolah maksimal 6 jam pelajaran jadi rata-rata selesai sebelum pukul 12 artinya makan siangnya cukup di rumah. Kalaupun misalnya membawa makanan atau minuman itu adalah makanan yang bisa dimasukan ke mulut tapi kemudian maskernya tetap dipakai sambil mengunyah," ujar Retno.

Menurut Retno, lembaganya juga telah meminta Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk mengevaluasi Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri terbaru yang mengizinkan kantin sekolah tetap beroperasi.

SKB 4 Menteri tersebut mengizinkan kantin sekolah kembali dibuka dengan kapasitas pengunjung maksimal 75 persen untuk sekolah yang berada di wilayah PPKM level 1, 2, dan 3. Sementara itu, untuk kantin sekolah yang berada di wilayah PPKM level 4 diizinkan buka dengan kapasitas maksimal 50 persen.

"Kemudian kenapa perlu dievaluasi, dipertimbangkan saja dahulu setelah hepatitis akut ini merebak artinya kita lihat dulu kondisinya, penyebarannya dimana jadi jangan buka kantin dahulu karena penularannya tadi salah satunya adalah melalui saluran pernafasan," ujar Retno.

Retno mengatakan sekolah dapat bekerja sama dengan Puskesmas terdekat untuk menyosialisasikan pencegahan virus hepatitis akut tersebut.

Dibendung dengan Mencuci Tangan

Sementara itu Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan upaya pencegahan utama penyakit hepatitis akut yang masih menjadi misteri sejauh ini dapat dibendung dengan mencuci tangan sebelum makan dan memastikan makanan yang tersaji dimasak dengan baik.

Menkes Budi menjelaskan sejak kasus hepatitis akut ditemukan pertama kali di Indonesia pada 27 April lalu, terdapat 15 kasus yang telah terdeteksi, di mana lima anak yang menderita di antaranya meninggal dunia.

Pihak Kementerian Kesehatan sendiri bekerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Amerika Serikat dan Inggris untuk meneliti penyebaran virus hepatitis akut tersebut.

"Tanggal 27 April itu kita sudah langsung mengeluarkan surat edaran agar semua rumah sakit dan dinas kesehatan melakukan pemantauan, pengawasan terhadap kasus ini. (Pada) 30 April, Singapura mengumumkan kasus yang pertama dan sampai sekarang kondisinya di Indonesia ada 15 kasus," ujar Budi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Kunjungan Menteri Pertahanan Tailan

1.5 jam yang lalu | Ones

Nasional
Kunjungan Menteri Pertahana...
Luar Negeri
Trump Desak Raksasa Minyak ...

Krisis di FIFA Kian Memanas, Posisi Gianni Infantino Terancam Usai Gagal Jual Hak Komersial Piala Dunia

Krisis di FIFA Kian Memanas, Posisi Gianni Infantino Terancam Usai Gagal Jual Hak Komersial Piala Dunia

05 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.