Riset Fokus Persiapan 'New Normal'
📅 Jumat, 22 Mei 2020, 06:00 WIB | Oleh: Muhamad Ma'rup
Doc: istimewa
JAKARTA - Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro memastikan agenda riset akan fokus pada persiapan new normal atau pola kehidupan baru. Hal ini dilakukan karena pandemi Covid-19 berdampak minimnya kontak fisik sehingga butuh persiapan jika ingin hidup damai dengan virus tersebut.
"Ke depan, sosial dan ekonomi itu kegiatannya tidak akan terlalu banyak kontak. Persiapan new normal salah satunya bisa dilakukan dengan optimalisasi teknologi," kata Bambang, dalam sebuah konferensi pers virtual, di Jakarta, Kamis (21/5).
Selain untuk sosial dan ekonomi, Bambang menilai optimalisasi teknologi juga penting untuk riset di bidang kesehatan, terutama screening (penyaringan) dan diagnostik. Ia menjelaskan hal tersebut akan melahirkan protokol pencegahan Covid-19. Selain itu, pengembangan alat tes juga akan semakin massif.
"Rapid test dan tes Polymerase Chain Reaction (PCR) pengembangannya akan semakin cepat dan hasilnya akurat. Ini akan membantu new normal," jelasnya.
Lebih jauh Bambang menyampaikan teknologi disinfektan material harus dikembangkan secara berkala. Hal itu harus dilakukan karena virus korona jenis baru memiliki daya tular 20 kali lebih kuat dari Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Perlu diketahui juga, virus korona jenis beru ini bisa hidup di material seperti besi atau kayu, juga material lain. Sehingga, virus ini tidak boleh dianggap enteng.
"Teknologi atau mekanisme membersihkan atau semacam mensterilkan dengan disifektan material tersebut juga menjadi salah satu agenda riset penting untuk menghadapi new normal," ucap Bambang.
Perkuat Triple Helix
Pada kesempatan tersebut, Bambang menyebut tim Konsorsium Riset dan Inovasi dalam penanganan Covid-19 bisa dibilang sebagai cikal bakal triple helix alat kesehatan (Alkes) dan bahan baku obat di Indonesia. Triple helix sendiri merupakan kolaborasi antara pemerintah, peneliti, dan dunia industri. Bambang berharap kehadiran konsorsium riset juga dapat mensubstitusi atau mengatasi masalah impor di bidang kesehatan. Dengan begitu, Indonesia bisa mandiri dari segi Alkes dan bahan baku obat. Adapun dalam konsorsium tersebut pihaknya tidak hanya melibatkan peneliti dari berbagai lembaga penelitian. Pihak industri, lanjutnya, juga terlibat sehingga proses hilirisasi produk inovasi dari konsorsium bisa segera diproduksi massal.
"Itu motivasi konsorsium dan berbagai institusi bergabung. Kita sedang membangun triple helix bidang kesehatan," tandas Bambang.
ruf/N-3
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!