Beda Daerah, Beda Sajian Sate
📅 Rabu, 25 Sep 2019, 01:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: istimewa
Sate sudah masuk dalam daftar makanan terlezat di dunia selain rendang dan nasi goreng.
Indonesia memiliki kekayaan kuliner luar biasa. Dari satu jenis kuliner, bisa ada berbagai varian. Misalnya sate. Sate yang asli Indonesia ini, memiliki beragam jenis, mulai dari rasa, bahan baku dan juga nama.
Ragam varian sate tentu didasarkan asal daerah yang mengembangkannya. Sebut saja, sate Madura, sate Tegal, sate Maranggi, sate Ponorogo, sate Padang, sate lilit, sate buntel, dan sate lainnya.
Konon menurut sejarahnya, sate ini berawal dari Tanah Jawa. Tepatnya di Ponorogo. Para warok kala itu, menggunakan tusuk lidi atau potongan bambu untuk menggantikan fungsi sendok dan garpu, saat makan daging ayam yang dibakar.
Kebiasaan para warok itu, kemudian ditiru masyarakat tetapi dengan cara sembunyi sembunyi dan tertutup. Karena, para warok dikenal tidak mau ditiru tingkah polahnya itu.
Dari berbagai sumber, akhirnya diketahui bahwa penggunaan tusuk lidi untuk sate, baru diketahui pada abad 15 oleh Batara Katong selaku Bupati Ponorogo yang pertama. Hingga saat ini potongan daging sate Ponorogo dipotong memanjang dan dibuat dengan cara primitif seperti awal mulanya, dibanding jenis sate lain.
Dalam perkembangannya kemudian, para ulama menggunakan sate sebagai media perlawanan anti Belanda terlebih pasca perang Diponegoro. Sehingga tren makan sate di kalangan rakyat terjadi pada pertengahan abad ke 18 hingga ke awal abad 19.
Selain itu, sate menjadi tradisi pada kalangan umat Islam pada Hari Raya Idul Adha. Hal ini menjadi bukti dilakukannya perang secara politik terhadap Belanda.
Lantas kenapa disebut kata sate? Berasal dari bahasa Jawa yaitu "Sak Beteng" (Tulisan: Sak Biting) yang berarti satu tusuk, karena sebenarnya tusuk sate pada awalnya menggunakan dari lidi. Namun ada yang menyimpulkan lain yaitu kata "Sak Set" yang berarti satu set atau satu paket, mengingat biasanya satu paket sate terdiri dari 10 tusuk.
Lidi yang dipakai biasanya dari bambu yang dikecilkan. Dipilih karena lebih kokoh dan kuat saat melalui proses pembakaran dibandingkan lidi sendiri maupun jenis-jenis kayu lainnya, terlebih bambu lebih mudah dibentuk.
Rasa dan Varian
Dari sekian banyak jenis sate, ada satu kesamaan. Yakni prosesnya adalah daging yang dibakar. Bisa daging ayam, daging sapi atau daging ikan. Dari varian yang dibakar pun, rasa dan bumbu bisa berbeda satu sama lainnya. Seperti bumbu kacang, kecap, dan bumbu rempah-rempah.
Sate Maranggi misalnya. Sate khas yang banyak ditemui di kawasan Purawakarta, Cianjur, dan sekitarnya. Kalau kebanyakan sate disajikan dengan saus kacang atau saus kecap, sate maranggi justru disajikan dengan sambal oncom dan uli bakar.
Daging satenya sendiri sudah enak, karena dibumbui terlebih daerah dengan ketumbar, bawang putih dan gula merah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!