Dua Dasawarsa untuk Seni dan Teknologi
📅 Senin, 10 Jun 2019, 01:00 WIB | Oleh: Eko SPlatform EFP - Education Focus Program pertama kali diterapkan pada era ini. Dua tahun awal adalah masa perkenalan dan inkubasi bagi HONF untuk mulai merajut network yang ada di dalam negeri. Nama-nama yang turut men-support dan mendirikan HONF pada awal terbentuknya adalah Venzha Christ, Tommy Surya, Irene Agrivina, A Sudjud Dartanto, dan Istasius.
Pada 2001, HONF mulai mengajak lembaga dan/atau institusi penting yang sarat birokrasi dan aturan pada saat itu untuk berkolaborasi dengan ide-ide yang mereka paparkan. Diantaranya beberapa rumah sakit, lembaga penelitian, Laboratorium Biologi, serta Laboratorium Instrumentasi yang ada di sejumlah universitas.
Di era ini muncul nama-nama dan judul project yang dikerjakan dalam durasi panjang seperti ElectrophonicAnalog, Intelligence Bacteria, Garden Of The Blind, ICU in ma mind, the house of natural fiber, StudioSoragan, YogyakartaMediaLab, dan lain lain.
.jpg)
Menyebut seni dan teknologi di Indonesia, tak bisa tak menyertakan HONF. Atas dedikasinya pada seni dan teknologi, Pemda DIY, memberikan penghargaan Kreator Pelopor Pencipta Karya Budaya kepada Venzha Christ pada Desember tahun lalu. YK/R-1
Agenda 2019
Sepanjang 2019 dalam rangka 20 tahun HONF, ada puluhan agenda yang telah dikerjakan mulai April hingga Desember. Pop Up Lab, Transformaking festival bagi para makers, Cellsbutton media art festival, HONF Record untuk musik eksperimental dan dokumentasi, UFO Festival bersama BETA UFO Indonesia pada Mei, dan SETI pada Juli yang menghadirkan Direktur SETI AS dan pakar-pakar astronomi dari berbagai negara termasuk dari LIPI, ITB, dan UGM.
Venzha meminta untuk menyebutkan lengkap semua yang terlibat dalam rangkaian acara 20 tahun HONF di antaranya, Langga Jasuma, Galih, Dwiky KA, Bayu bawono, Abdillah F Noor, UpinMelo, Yudhistira, Sagitha Happy A, Gama, Ito, Dadan Geets, Ana S Putri, Chrisna Fernand, Eko, Ipo Hadi, Agus Pengkit, Rasyid, Anggito Rahman, Eka J Ayuningtyas, Ratna Djuwita, Haryono, Lyana Fuad, Argha Mahendra, Ichan Harem, Reza Wardhana, Yudhis Purwa Anugrah, Irene Agrivina, Haryo Hutomo, A Sudjud Dartanto, Dhoni Yudhanto, Nur Agustinus, dan Yudianto Asmoro.
"Kami tak bisa tanpa pribadi-pribadi itu. Penghormatan terbesar untuk mereka, We Are HONF, We Are Done," kata Venzha.
Ke depan, Venzha mengatakan, HONF akan diisi para penerus berusia lebih muda sebagai wujud proses regenerasi. "Mereka akan menghadirkan banyak proyek baru seperti, X-PLORE, Spacial, Atlas Of The Dead, UFO-LOGIC, Evolution of The Unknown, (under)standing:(micro)cosmos+(macro)cosmos, DIY Radio Astronomy, Circular Material, C6H12O6+O2, Microbial Dress, dan lain lain," pungkas Venzha. YK/R-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!