Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Nikmatnya Sate, Kuliner Asli Nusantara

📅 Senin, 06 Agu 2018, 01:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Nikmatnya Sate, Kuliner Asli Nusantara Doc: istimewa

Bertepatan dengan perayaan Hari Raya Idul Adha yang sebentar lagi tiba, biasanya sebagian masyarakat muslim menggelar 'nyate' bareng atau membakar sate ramai-ramai.

Perayaan hari raya kurban, sudah identik dengan acara informal bakar-bakar sate. Ini wajar, karena saat hari raya kurban, tersedia daging yang melimpah di masyarakat. Maka untuk menyambut hari kebahagiaan ini, masyarakat muslim biasanya mengadakan bersantap sate ramai-ramai.

Biasanya acara dilakukan dengan kerabat, warga kampung dan tetangga, atau internal famili terdekat. Daging sate yang dibakar adalah hasil penyembelihan sapi atau kerbau. Namun, sebagai variasi, kadang daging ayam juga dihidangkan, tapi sangat jarang.

Nah, bicara soal sate, kuliner yang satu ini memang menjadi salah satu kekayaan kuliner Indonesia. Sate ada banyak varian. Sate yang asli Indonesia ini, memiliki beragam jenis, mulai dari rasa, bahan baku dan juga nama.

Ragam varian sate tentu didasarkan asal daerah yang mengembangkannya. Sebut saja, sate Madura, sate Tegal, sate Maranggi, sate Ponorogo, sate Padang, sate lilit, sate buntel dan sate lainnya.

Konon menurut sejarahnya, sate ini berawal dari Tanah Jawa. Tepatnya di Ponorogo. Para warok kala itu, menggunakan tusuk lidi atau potongan bambu untuk menggantikan fungsi sendok dan garpu, saat makan daging ayam yang dibakar.

Kebiasaan para warok itu, kemudian ditiru masyarakat tetapi dengan cara sembunyi sembunyi dan tertutup. Karena, para warok dikenal tidak mau ditiru tingkah polahnya itu.

Dari berbagai sumber, akhirnya diketahui bahwa penggunaan tusuk lidi untuk sate, baru diketahui pada abad 15 oleh Batara Katong selaku Bupati Ponorogo yang pertama. Hingga saat ini potongan daging sate Ponorogo dipotong memanjang dan dibuat dengan cara primitif seperti awal mulanya, dibanding jenis sate lain.

Dalam perkembangannya kemudian, para ulama menggunakan sate sebagai media perlawanan anti Belanda terlebih pasca perang Diponegoro. Sehingga tren makan sate di kalangan rakyat terjadi pada pertengahan abad ke 18 hingga ke awal abad 19. Selain itu, sate menjadi tradisi pada kalangan umat Islam pada Hari Raya Idul Adha. Hal ini menjadi bukti dilakukannya perang secara politik terhadap Belanda.

Lantas kenapa disebut kata sate? Berasal dari bahasa Jawa yaitu "Sak Beteng" (Tulisan: Sak Biting) yang berarti satu tusuk, karena sebenarnya tusuk sate pada awalnya menggunakan dari lidi. Namun ada yang menyimpulkan lain yaitu kata "Sak Set" yang berarti satu set atau satu paket, mengingat biasanya satu paket sate terdiri dari 10 tusuk.

Lidi yang dipakai biasanya dari bambu yang dikecilkan. Dipilih karena lebih kokoh dan kuat saat melalui proses pembakaran dibandingkan lidi sendiri maupun jenis-jenis kayu lainnya, terlebih bambu lebih mudah dibentuk.

Rasa dan Varian

Dari sekian banyak jenis sate, ada satu kesamaan. Yakni prosesnya adalah daging yang dibakar. Bisa daging ayam, daging sapi atau daging ikan. Dari varian yang dibakar pun, rasa dan bumbu bisa berbeda satu sama lainnya. Seperti bumbu kacang, kecap, dan bumbu rempah-rempah.

Sate Maranggi misalnya. Sate khas yang banyak ditemui di kawasan Purawakarta, Cianjur, dan sekitarnya. Kalau kebanyakan sate disajikan dengan saus kacang atau saus kecap, sate maranggi justru disajikan dengan sambal oncom dan uli bakar.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Megapolitan
Hasil Penataan Jalan Rasuna...
  • Pemkot Bandung Bongkar 174 Bangunan Liar di Jalan Terusan Pasirkoja
    Preview komentar:
    Parkir liar gimana nihhh dijalan kebon jati,, itu ...
  • Malasyia Mencak-mencak Kebakaran Jenggot Dimasukkan ke Dalam Kelas Dua Sepak Bola Asean
    Preview komentar:
    Jiran kita kejet-kejet tanpa bisa berbuat apa2
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
Jakarta Fair 2026 Banjir Diskon Helm hingga 50 Persen, Ini Daftar Merek dan Promonya

Jakarta Fair 2026 Banjir Diskon Helm hingga 50 Persen, Ini Daftar Merek dan Promonya

18 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.