Teknologi Endoskopi Perlu Kemampuan Mumpuni bagi Dokter Indonesia
📅 Sabtu, 23 Sep 2017, 01:00 WIB | Oleh: Tim PenulisTetapi tidak semua rumah sakit memiliki fasilitas tersebut. Misalnya peralatan untuk ERCP dimiliki RS Cipto Mangunkusumo (Jakarta) dan RS Kariadi (Semarang), dan rumah sakit swasta di Bandung dan Surabaya. "Ada dokter endoskopi di suatu rumah sakit tetapi rumah sakit itu tidak memiliki peralatan endoskopi canggih," ujarnya.
Sementara itu, Hisao Tajiri mengatakan bahwa pelatihan endoskopi saluran cerna tingkat lanjut yang diberikan tim ahli dari Jepang merupakan bentuk dukungan bagi PEGI. "Pelatihan hands on ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dokter spesialis penyakit dalam terkait advanced endoscopy di regional, termasuk Indonesia," ujarnya.
Menurut Tajiri, di Jepang terdapat sekitar 30.000 ahli endoskopi. Adapun jumlah penduduk Jepang sekitar 127 juta jiwa (data 2016). Bandingkan dengan Indonesia yang berpenduduk 280 juta tapi hanya memiliki 600 dokter endoskopi.
Sedangkan Seigo Kitano mengatakan saat ini terdapat 20 negara yang menjadi anggota APSDE. "Indonesia merupakan salah satu negara yang penting dan menjadi prioritas pelatihan endoskopi saluran cerna tingkat lanjut, karena jumlah populasi yang besar, namun dokter yang menguasai advanced endoscopy masih terbilang sedikit," katanya.
Ari menyinggung, di Indonesia angka kejadian kanker saluran cerna (misal kanker pankreas dan kanker kolorektal) terus meningkat jumlahnya. Peningkatan kasus kejadian kanker itu, antara lain, disebabkan gaya hidup masyarakat, misalnya suka mengonsumsi makanan berlemak, kurang makan sayur/ serat, kurang gerak, juga obesitas.
Kasus lain yang juga banyak terdapat di masyarakat adalah meningkatnya kejadian batu di saluran empedu. "Nah, dengan pelatihan endoskopi saluran cerna tingkat lanjut, maka dokter di Indonesia memiliki kemampuan untuk mengeluarkan batu dari saluran empedu atau mengambil sampel jaringan di pankreas," ujarnya.
Di Indonesia, angka kejadian kanker kolorektal terbilang tinggi. Ini berbeda dengan di Jepang. Di Jepang, lanjut Hisao Tajiri, kasus yang paling banyak adalah kanker lambung. Selain karena pola makan yang salah, juga disebabkan bakteri Helicobacter pylori (H. Pylori).
H. Pylori kini juga menjadi perhatian peneliti Indonesia. Dokter Ari yang memimpin studi tersebut menemukan ada beberapa faktor yang menyebabkan kuman ini bisa tumbuh di daerah lain, tapi tidak di tempat lain. Selama 3 tahun, PEGI, khususnya kelompok studi H. Pylori Indonesia, melakukan studi di 20 RS di Indonesia.
Dari hasil penelitian terhadap 1.100 pasien, Dokter Ari bersama Prof Yoshio Yamaoka dari Universitas Iota, Jepang. Menemukan prevalensi H pylori di Indonesia sebesar 22,1 persen. Satu dari 5 pasien dispepsia (sakit maag) berpotensi mengalami infeksi bakteri tadi. "Suku bangsa dan sumber air menjadi salah satu faktor risiko infeksi kuman itu," katanya. san/R-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!