Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads
-

Teknologi Endoskopi Perlu Kemampuan Mumpuni bagi Dokter Indonesia

📅 Sabtu, 23 Sep 2017, 01:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Teknologi Endoskopi Perlu Kemampuan Mumpuni bagi Dokter Indonesia Doc: istimewa
Ket. Seorang dokter tengah memeriksa bagian dalam pasien dengan menggunakan peralatan endoskopi.

Penyakit saluran cerna kini menjadi salah satu penyakit yang diderita banyak orang. Mereka umumnya menderita penyakit maag, batu kandung empedu, penyakit pankreas dan saluran empedu, penyakit saluran cerna, penyakit usus halus, dan lain-lain. Untuk mendiagnosanya, dokter biasanya dibantu dengan peralatan endoskopi.

Endoskopi merupakan salah satu peralatan kedokteran untuk memindai atau meneropong kelainan atau penyakit pada organ-organ pencernaan. Peralatan ini dilengkapi dengan kamera mikro yang dihubungkan dengan komputer.

Masalahnya, jumlah tenaga dokter yang dapat mengerjakan endoskopi relatif masih terbatas. Di Indonesia, diperkirakan sekitar 600 dokter saja. Dari jumlah tersebut, kurang dari 50 dokter spesialis penyakit dalam yang memiliki kemampuan menggunakan peralatan endoskopi yang lebih modern. Itu pun sebagian besar terpusat di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Medan, Makassar, Manado, dan Surabaya.

"Kemampuan para dokter endoskopi di Indonesia sebenarnya cukup mahir dan mampu bersaing dengan dokter-dokter dari negara-negara lain. Sebab, mereka telah menempuh pendidikan di sejumlah perguruan tinggi di luar negeri. Namun, dengan kemajuan peralatan endoskopi belakangan ini, para dokter endoskopi Indonesia perlu terus mengasah pengetahuannya, sehingga menjadi lebih mahir," ujar Ari Fahrial

Syam, Ketua Umum Perhimpunan Endoskopi Gastrointestinal Indonesia (PEGI) di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Atas dasar itulah PEGI menggelar workshop endoskopi. Workshop ini merupakan bagian dari kalender acara outreach the Asia Pacific Society for Digestive Endoscopy (APSDE) tahunan yang kali ini diadakan di Jakarta. Sebanyak 40 dokter endoskopi diundang untuk memperdalam ilmunya.

Workshop tersebut menghadirkan beberapa ahli endoskopi dari Jepang, yakni Prof Seigo Kitano (President Asia Pacific Society of Digestive Endoscopy-APSDE), dan Prof Hisao Tajiri (President Japanese Gastroenterological Endoscopy Society-JGES).

Selain itu, ada ahli endoskopi yang memberikan kuliah tamu, yaitu Profesor Kazuhisa Okamoto dan Profesor Mitsuhiro Kidadari dari Fakultas Kedokteran Universitas Kitasato, dan Profesor Eiji megaki dari Departemen Gastroenterologi, Kobe University School of Medicine.

Tim ahli dari Jepang itu mengajari para dokter spesialis penyakit dalam di sesi hands on dengan cara yang benar. Diharapkan dengan pelatihan tersebut para dokter spesialis penyakit dalam yang terlibat dalam sesi pelatihan ini mampu melakukan tindakan endoskopi tingkat lanjut (advanced endoscopy).

Dokter Ari mengatakan untuk kawasan Asia, Vietnam dan Indonesia mendapatkan kesempatan pelatihan langsung (hands on) dari para ahli endoskopi saluran cerna dari Jepang. "Untuk pelatihan di Jakarta dipimpin tim dari Kobe University School of Medicine," ujarnya.

Tentu saja course itu diselenggarakan dengan memberikan manfaat kepada peserta. "Course tersebut diselenggarakan dengan tujuan agar para peserta dapat meningkatkan kemampuan menggunakan endoskopi, sehingga dapat menegakkan diagnosa secara lebih akurat," tuturnya.

Dokter yang ikut di acara tersebut berasal dari berbagai daerah, sehingga terjadi pemerataan pelayanan kesehatan. "Pasien tak perlu ke Jakarta untuk memeriksakan penyakit sistem pencernaannya," imbuh Ari. san/R-1

Belum Merata

Sebenarnya, peralatan teknologi endoskopi yang terdapat di Indonesia sudah maju. Beberapa rumah sakit sudah memiliki ERCP (Endoscopic Retrograde Cholangio Pancreatography), endoskopi ultrasound, entroskopi untuk melihat usus halus, dan intra ductal ultrasound untuk memindai batu empedu. Ada juga manometri untuk meneropong tekanan dalam lambung dan kerongkongan yang biasa terjadi pada penderita penyakit maag dan GERD (Gastroesophageal Reflux Disease).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Bersejarah, Aldila Sutjiadi Jadi Petenis Indonesia Pertama Juarai DC Open

Bersejarah, Aldila Sutjiadi Jadi Petenis Indonesia Pertama Juarai DC Open

04 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.