Tirani Awalnya Tercipta dari Pemerintahan Baik
📅 Jumat, 09 Des 2022, 00:00 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Istimewa
Tiran di Yunani awal berasal dari kelas elite, berkuasa karena keinginan untuk menghindari dominasi segelintir orang. Pemerintahan tirani awalnya dianggap baik karena membawa keuntungan dan mampu menciptakan stabilitas sosial.
Istilah tirani dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai kekuasaan yang digunakan sewenang-wenang. Arti kata lain dari kata tersebut adalah negara yang diperintah oleh seorang raja atau penguasa yang bertindak sekehendak hatinya.
Kata tiran kini mengandung konotasi negatif. Seorang tiran adalah penguasa yang kekuasaan absolutnya yang berada di luar hukum. Oleh karena itu, seorang tiran tidak pernah diminta untuk memberikan penjelasan tentang tindakannya, baik atau buruk, kepada warganya.
Filsuf terkenal asal Inggris dari abad ke-17, John Locke, menulis dalam sebuah esainya tentang pemerintahan sipil. "Tirani adalah pelaksanaan kekuasaan di luar hak. ... Di mana pun hukum berakhir, tirani dimulai," tulis dia.
Sejarah istilah tirani dimulai dari zaman Yunani kuno. Ketika kekuasaan yang sewenang-wenang itu dilakukan di negara-kota hingga Pulau Sisilia dan Samos. Negara-kota atau polis yaitu suatu wilayah yang dikelola secara eksklusif oleh suatu kota, biasanya dengan memiliki kedaulatan.
Sebagian besar sejarawan memperkirakan Zaman Agung Tirani Yunani (The Great Age of Greek Tyranny) terjadi antara 750 hingga 500 SM. Hal ini ditandai dengan digulingkannya Hippias. Namun, beberapa penulis memperpanjang periode tersebut hingga abad ke-4 SM, termasuk pemerintahan lalim Cassander di Makedonia serta tirani Dionysius I dan II di Syracuse.
Hippias dari negara-kota Athena adalah putra Peisistratos. Ia dikenal sebagai seorang tiran Athena pada abad ke-6 SM. Ia menjabat sebagai tiran menggantikan ayahnya sejak tahun 527 SM, dan pada tahun 525 SM dia memperkenalkan sistem mata uang baru di Athena. Hippias kemungkinan memerintah bersama-sama dengan saudaranya Hipparchus.
Donald L Wasson, pengajar sejarah kuno abad pertengahan di Lincoln College, Amerika Serikat, menuturkan meski saat ini istilah tirani dianggap negatif namun tidak pada saat itu. Para tiran Yunani awal tidak dianggap brutal seperti yang lain, melainkan dianggap bijaksana dan moderat.
Tiran di Yunani awal berasal dari kelas elite, berkuasa karena keinginan untuk menghindari dominasi oligarki atau pemerintahan di tangan sedikit orang. Pemerintahan tiran ini yang menindas dapat membawa keuntungan bagi rakyatnya, bahkan meningkatkan stabilitas sosial.
Beberapa tiran, seperti Cypselus dan Periander of Corinth, adalah pembangun kerajaan, mengawasi pembangunan kuil dan pelabuhan. Dengan demikian mereka mempertahankan kekuasaan dan popularitas dengan bekerja dengan mempertimbangkan kepentingan rakyat.
Terlepas dari pencapaian mereka sebagai tiran, baik atau buruk banyak yang merebut kekuasaan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Cleisthenes Athena dan Corinthian Cypselus adalah dua contoh yang meraih kekuasaan melalui kudeta.
"Seiring waktu, tirani pada akhirnya akan gagal dan digantikan oleh pemerintahan yang tidak terlalu menindas. Individu dalam pemerintahan tirani akan bangkit sebagai protes terhadap penguasa lalim dan menggulingkannya, menggantikannya dengan kepemimpinan yang lebih demokratis," tulis Wasson di laman World History.
Tiran Korintus
Abad ke-7 dan ke-6 SM menyaksikan sejumlah tiran di negara kota Korintus dan Athena. Di antara mereka yang menonjol di Korintus adalah Cypselus (c. 657-627 SM) dan putranya Periander (627-587 SM). Menarik dukungan dari elite kaya Korintus, Cypselus berkuasa setelah penggulingan Bacchiadae aristokrat, keluarga ibunya. Dia mendirikan salah satu tirani terbesar dan bertahan lama di Yunani.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!