Tangis Penyesalan Lansia 61 Tahun Hingga Empat Kali Ikut Hapus Tato
📅 Selasa, 03 Mar 2026, 16:24 WIB | Oleh: Sujar
Doc: ANTARA/Siti Nurhaliza
JAKARTA -- Tangis penyesalan tak kuasa dibendung Murni Dahlena (61), warga Lubang Buaya, Jakarta Timur, saat kembali mengikuti program hapus tato gratis yang digelar Baznas DKI Jakarta di Kantor Walikota Jakarta Timur.
Bagi Murni, ini bukan kali pertama. Dia sudah tiga kali menjalani proses serupa, dan hari ini menjadi yang keempat kalinya dia berupaya menghapus jejak masa lalunya.
"Saya hapus tato di sini sudah tiga kali. Ini sekarang yang keempat," kata Murni di Kantor Walikota Jakarta Timur, Selasa.
Perempuan lanjut usia itu mengaku memasang tato pada era 1980-an, saat ia masih muda. Kala itu, ia terbawa pergaulan teman-temannya.
"Sekitar tahun 80-an. Saya masih muda, masih liar-liarnya, ke mana-mana sama teman, sama saudara. Banyak teman bikin tato, saya diajak-ajak, ya, sudah," kenang Murni.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, seiring bertambahnya usia dan pemahaman agama yang semakin dalam, penyesalan mulai menghampiri. Terlebih, tato di kedua tangannya bergambar daun ganja, yang membuat dirinya semakin menyesal.
"Kalau lihat gambar ganja itu, saya menyesal banget. Sampai saya sholat nangis berkali-kali. Saya minta diampuni dosa-dosa saya," ujar Murni sambil meneteskan air mata.
Keputusannya menghapus tato muncul dari dorongan hati yang kuat. Dia mengaku sering mendengar ceramah di masjid, terutama saat peringatan Isra Mi’raj maupun Maulid Nabi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dari sana, Murni memahami tato kerap dikaitkan dengan persoalan sah atau tidaknya wudhu dan sholat.
"Niat hati saya. Karena katanya sholat itu tidak masuk air wudhunya, tidak sah. Dari situ, saya sering menangis kalau dengar ceramah. Saya akhirnya tinggalkan semuanya," jelas Murni.
Tak hanya memperbaiki diri sendiri, Murni juga aktif mengajak teman-temannya yang masih memiliki tato untuk ikut program serupa.
Meski sempat mendapat ejekan, Murni memilih bersabar dan tetap mengajak dengan cara yang baik.
"Ada teman ngeledek, katanya saya jadi ustazah. Tapi akhirnya dia minta diantar. Sekarang dia juga sudah dihapus. Senang banget dia. Kirain sakit banget katanya," ujar Murni.
Awalnya, dia mengaku takut menjalani prosedur penghapusan tato. Namun, setelah beberapa kali mengikuti, rasa takut itu hilang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!