Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

AS dan Inggris Tolak Tandatangani Deklarasi AI di KTT Paris

📅 Kamis, 13 Feb 2025, 15:51 WIB | Oleh:
AS dan Inggris Tolak Tandatangani Deklarasi AI di KTT Paris Doc: Antara
Ket. KTT Aksi AI di Paris, Prancis.

JAKARTA - Pemerintah Inggris dan Amerika Serikat menolak menandatangani deklarasi internasional mengenai kecerdasan buatan (AI) yang inklusif dan berkelanjutan pada KTT AI di Paris.

Deklarasi ini diadopsi oleh 61 negara, termasuk Prancis, Tiongkok, India, Jepang, Australia, dan Kanada, dengan tujuan menciptakan ekosistem AI yang lebih adil dan terbuka.

Deklarasi tersebut menyoroti sejumlah prioritas global terkait AI, seperti mengurangi kesenjangan digital, mencegah dominasi pasar oleh segelintir perusahaan besar, serta memastikan pengembangan AI yang etis, aman, dan transparan.

Selain itu, negara-negara yang menandatangani juga berkomitmen untuk meningkatkan kerja sama internasional dan menjadikan teknologi AI lebih berkelanjutan, terutama dalam konteks dampaknya terhadap lingkungan dan pasar tenaga kerja.

Pernyataan bersama dari para pemimpin di KTT ini menegaskan bahwa keberagaman dalam pengembangan AI sangat penting. Mereka menekankan bahwa pendekatan yang terbuka dan inklusif harus berbasis hak asasi manusia, berpusat pada kepentingan manusia, serta tunduk pada hukum internasional, termasuk hukum humaniter dan hak asasi manusia.

Deklarasi ini juga menyoroti perlindungan konsumen, hak kekayaan intelektual, serta kesetaraan gender dan bahasa dalam regulasi AI di masa depan.

Meskipun Inggris dan AS tidak memberikan alasan spesifik atas penolakan mereka, juru bicara Perdana Menteri Keir Starmer menyatakan Inggris hanya akan mendukung inisiatif yang sesuai dengan kepentingan nasionalnya.

Sementara itu, wakil presiden AS JD Vance mengungkapkan kekhawatiran bahwa regulasi yang terlalu ketat dapat menghambat perkembangan industri AI.

"Kita memerlukan rezim regulasi internasional yang mendorong terciptanya teknologi AI alih-alih menghambatnya," ujar Vance.

Vance juga menentang kerja sama dengan Tiongkok serta regulasi yang dianggap dapat mengancam kepentingan perusahaan teknologi AS. Ia menegaskan bahwa AI seharusnya tetap bebas dari bias ideologis dan tidak boleh digunakan sebagai alat penyensoran otoriter.

"Amerika tidak dapat dan tidak akan menerima hal itu, dan kami pikir itu adalah kesalahan besar, tidak hanya bagi Amerika Serikat, tetapi juga bagi negara Anda sendiri," tambahnya.

Keputusan Inggris dan AS ini mendapat kritik dari berbagai pihak, termasuk Full Fact, lembaga pemeriksa fakta independen, yang memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat merusak kredibilitas Inggris dalam kepemimpinan global terkait AI yang aman dan etis.

"Kita memerlukan tindakan pemerintah yang lebih berani untuk melindungi masyarakat dari misinformasi yang dihasilkan AI," kata Andrew Dudfield, kepala AI di Full Fact.

Sementara itu, pakar AI Adam Leon Smith mengatakan negara-negara kaya harus menyeimbangkan inovasi AI dengan keamanan, tanpa terjebak dalam konflik geopolitik yang dapat menghambat kerja sama internasional.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Daerah
Surabaya Siapkan Sensor Pem...
Ekonomi
BNI Private Dinobatkan seba...
Advertisement
11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.