Sarjana Berlimpah, Lapangan Kerja Seret: Ironi Dunia Pendidikan
📅 Senin, 07 Jul 2025, 22:05 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara
JAKARTA – Pengangguran di kalangan sarjana memberikan dampak negatif baik bagi individu maupun negara.
Bagi individu, pengangguran dapat menyebabkan penurunan pendapatan, stres tinggi, masalah kesehatan, dan harga diri yang rendah.
Di tingkat negara, pengangguran sarjana dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan beban fiskal, dan menciptakan ketidakstabilan sosial.
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengakui data terkait satu juta sarjana yang menganggur di Indonesia adalah sebuah tantangan dan potret saat ini.
“Itu menjadi sebuah tantangan kita. Artinya, itu adalah potret saat ini, kemudian kita punya tantangan ke depan,” kata Menaker saat memberikan tanggapan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (7/7).
Sebaiknya Anda baca juga:
Adapun sebelumnya, Menaker Yassierli mengungkapkan bahwa sebanyak 1,01 juta lulusan universitas menganggur pada 2025.
Data ini selaras dengan Badan Pusat Statistik (BPS) yang sebelumnya mencatat bahwa jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,28 juta orang per Februari 2025, dengan jumlah pengangguran dari lulusan perguruan tinggi saja tercatat tembus hingga 1,01 juta orang.
Selain itu, BPS juga mencatatkan jumlah pengangguran per Februari 2025 menembus angka hingga 7,28 juta orang, naik sekitar 1,11 persen atau sebesar 83,45 ribu orang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Angka tersebut pun mengambil porsi 4,76 persen dari angkatan kerja Indonesia.
Tak hanya lulusan sarjana, lulusan diploma memiliki 177,39 ribu orang pengangguran. Sementara untuk lulusan SD dan SMP, SMA, serta SMK, masing-masing di angka 2,42 juta orang, 2,04 juta orang, dan 1,63 juta orang.
Menurut Menaker, untuk mengatasi permasalahan ini, khususnya bagi lulusan sarjana, diperlukan adanya kolaborasi yang lebih erat lagi antara pemerintah dan para pemangku kepentingan terkait, seperti salah satunya Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek).
“Sehingga semangat yang saya munculkan itu, kan adalah semangat untuk kita berkolaborasi bersama. Itu saja sebenarnya untuk mencari solusi,” ujar Yassierli.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!