Ada 44 Juta Pengangguran, Survei Sebut Kaum Muda RI Pesimis soal Masa Depan
📅 Jumat, 18 Jul 2025, 13:15 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Koran Jakarta/ Selocahyo
MEDAN – Setelah lulus dari universitas dengan gelar sarjana hukum dua tahun lalu, Andreas Hutapea berasumsi ia tidak akan kesulitan mencari karier yang stabil.
Kenyataannya, Hutapea mendapati dirinya menghadapi penolakan demi penolakan saat melamar pekerjaan
Dikutip dari Al Jazeera, Hutapea pertama-tama gagal dalam ujian pegawai negeri sipil yang terkenal sulit, hanya sekitar 3 persen pelamar diterima, dan ia juga tidak berhasil dalam upayanya untuk menjadi jaksa magang.
Sebelum masuk sekolah hukum, Hutapea bermimpi untuk bergabung dengan tentara, tetapi dia tidak dapat memenuhi persyaratan tinggi badan.
Akhirnya, karena uangnya hampir habis, Hutapea meninggalkan kos yang disewanya untuk kembali tinggal bersama orang tuanya, yang menjalankan toko sederhana yang menjual minyak, telur, beras, dan bahan makanan lainnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sejak saat itu, Hutapea telah bekerja di toko orang tuanya, di sebuah kota di pinggiran Medan.
"Saya membuka toko untuk mereka di pagi hari, duduk di sana sepanjang hari melayani pelanggan, lalu membantu menutup toko di malam hari," ujar Hutapea, yang lulus SMA pada tahun 2020.
"Orang tua saya tidak membayar saya upah untuk pekerjaan saya, tapi saya tidak bisa menyalahkan mereka. Mereka memberi saya makanan dan tempat tinggal gratis."
Sebaiknya Anda baca juga:
Hutapea tidak sendirian dalam perjuangannya mencari pekerjaan yang stabil dan bergaji tinggi.
Indonesia memiliki salah satu tingkat pengangguran muda tertinggi di Asia.
Menurut statistik pemerintah, sekitar 16 persen dari lebih dari 44 juta penduduk Indonesia berusia 15-24 tahun tidak memiliki pekerjaan – lebih dari dua kali lipat tingkat pengangguran kaum muda di negara tetangga Thailand dan Vietnam.
Dalam survei yang diterbitkan oleh ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura pada bulan Januari, anak muda Indonesia mengungkapkan sikap yang jauh lebih pesimis terhadap ekonomi dan pemerintah dibandingkan dengan rekan-rekan mereka di Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Vietnam.
Hanya sekitar 58 persen pemuda Indonesia yang mengatakan mereka optimis terhadap rencana ekonomi pemerintah, menurut survei tersebut, dibandingkan dengan rata-rata 75 persen di enam negara.
Pada bulan Februari, sebagian dari kegelisahan ini meluap ke jalan ketika para mahasiswa membentuk gerakan Indonesia Gelap untuk memprotes rencana pemerintah memangkas anggaran untuk layanan publik.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!