Perubahan Iklim Ancam Peternak Lebah di Turki
📅 Sabtu, 02 Agu 2025, 19:40 WIB | Oleh: Deri Henriawan
Doc: Xinhua/Mustafa Kaya
ANKARA - Di tengah ladang lavender di Lalapasa, sebuah kota di Provinsi Edirne, Turkiye barat laut, Nuri Danisman mengantar pengunjung melewati sarang lebah yang berdengung sambil memberikan sendok berisi madu berwarna keemasan.
"Kami memproduksi madu lavender berkualitas tinggi dan berbagi pengalaman unik kami dengan para tamu dengan cara yang ramah lingkungan melalui pariwisata lebah (apitourism)," kata peternak lebah itu kepada Xinhua.
"Para wisatawan benar-benar menikmati tur kami di ladang lavender dan sekitar lokasi produksi madu kami," ujarnya.
Turnya menjadi penyambung hidup yang semakin penting bagi sektor lebah Turkiye, salah satu pilar ekonomi negara tersebut dengan hampir 9 juta sarang lebah, hampir 98.000 perusahaan terdaftar, dan produksi madu sekitar 100.000 ton per tahun, yang kini berjuang untuk bertahan hidup di tengah krisis iklim.
Kekeringan, periode mekarnya bunga yang tidak teratur, dan suhu ekstrem mengganggu aliran nektar. "Setiap tahun, bunga mekar lebih awal atau lebih lambat, dan hujan datang pada waktu yang tidak seharusnya. Lebah-lebah kami tidak bisa bertahan," kata Burak Yalcin, peternak lebah generasi kedua dari Provinsi Sivas di bagian timur.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kami terus kehilangan koloni setiap musim sekarang," katanya.
Ditambah dengan pestisida dan parasit, tekanan-tekanan ini mendorong Kementerian Pertanian Turkiye untuk mendorong diversifikasi lebih awal pada Juli, dengan praktik organik, pengendalian penyakit, dan produk bernilai tambah seperti royal jelly, propolis, dan racun lebah. Di antara semua upaya tersebut, apitourism muncul sebagai solusi potensial. Saat Danisman membersihkan serbuk sari dari lengan bajunya, keyakinannya mencerminkan semangat industri.
"Kami berencana membuka sarang lebah kami untuk kelompok tur kecil. Orang-orang penasaran. Mereka senang melihat lebah bekerja. Hal ini mungkin bisa mendatangkan sedikit uang dan membantu meningkatkan kesadaran tentang betapa pentingnya lebah," ujar Yalcin.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Di dunia yang menghadapi tekanan iklim, petani tidak lagi dapat mengandalkan satu sumber penghasilan saja. Pariwisata membangun ketahanan," katanya.
"Para wisatawan dapat bertemu dengan peternak lebah setempat, menjelajahi sarang lebah tradisional, mencicipi berbagai jenis madu, dan bahkan mencoba apitherapy, perawatan kesehatan menggunakan produk yang berasal dari lebah," kata Bulent Bacioglu, Kepala Asosiasi Promosi dan Pariwisata Edirne, kepada Xinhua, seraya menuturkan bahwa model "pariwisata hijau" ini dapat membantu menghidupkan kembali daerah pedesaan.
Dari pantai-pantai Kota Mugla hingga dataran rendah Kota Adana, peternakan lebah tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Turkiye. Meskipun tekanan iklim memaksa adaptasi, keanekaragaman hayati negara tersebut, yang kaya padang rumput pegunungan (alpine) dan hutan pinus, memberikan harapan untuk masa depan. Ant/Xinhua
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!